Habib Ali dihormati luas sebagai salah satu dari Wali Pitu, atau tujuh wali yang diyakini memiliki kedudukan spiritual tinggi di Bali. Sosoknya dikenang sebagai penyebar Islam yang konsisten, bijaksana, dan penuh toleransi.
Tak hanya bernilai spiritual, kedua makam kini dikelola sebagai objek wisata religi.
Pengunjung bisa menjelajahi kawasan makam yang sejuk dan damai, lengkap dengan rumah panggung tradisional serta aneka jajanan lokal khas Loloan.
Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Semua berjalan dengan sistem donasi sukarela, menjadikan tempat ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menapaktilasi sejarah Islam di Bali.
Melalui wisata religi ke Buyut Lebai dan Ali Bafaqih, masyarakat dapat menyelami jejak dakwah yang membawa nilai-nilai Islam berkembang di tengah masyarakat multikultural Bali.
Kampung Loloan pun kini menjadi pusat komunitas Muslim yang tetap harmonis berdampingan dengan budaya Hindu yang mendominasi pulau.
Ziarah ke dua makam ini bukan sekadar perjalanan spiritual, tapi juga pengingat akan toleransi, keberagaman, dan sejarah panjang dakwah Islam di tanah Bali.***
Artikel Terkait
Wamenpar Dorong Sebaran Turis Lewat Paket Wisata 3B, Penjualan Naik, Target China Disiapkan Mendarat di Banyuwangi
Wamenpar Ajak Wisatawan Ikut Bersih Pantai Lovina, Gerakan Wisata Bersih Didorong Jadi Budaya Lewat Edukasi Berkelanjutan
Wamenpar Ungkap Kendala Dermaga Banyuwangi–Bali, Paket Wisata 3B Tetap Jalan Lewat Jalur Alternatif Gilimanuk
Kebun Raya Jagatnatha, Wisata Bali Barat yang Unik dengan Koleksi Tanaman Upakara dan Usada Bernilai Religius
Sentra Tenun Jembrana, Destinasi Wisata Budaya Bali yang Suguhkan Proses Tenun Manual dan Songket Unik Bernilai Filosofis
Desa Wisata Perancak, Surga Tersembunyi di Bali Barat, Sunset, Lepas Tukik, hingga Kuliner Pindang yang Menggoda