Wisata Lombok yang Memukau, Desa Sade Simpan Tradisi Suku Sasak yang Masih Bertahan hingga Kini

photo author
Yiyin Sulastri, Media Priangan
- Kamis, 18 Juni 2026 | 05:42 WIB
Wisata Lombok di Desa Sade menghadirkan pesona budaya Suku Sasak dengan rumah adat dan tradisi yang tetap terjaga.   (Tangkapan layer Google/adaaja)
Wisata Lombok di Desa Sade menghadirkan pesona budaya Suku Sasak dengan rumah adat dan tradisi yang tetap terjaga. (Tangkapan layer Google/adaaja)

Meski terdengar tidak biasa, rumah adat Sasak yang menggunakan pelapis tersebut tidak menimbulkan aroma menyengat.

Menurut warga, cara ini efektif untuk mengurangi debu, memperkuat lantai, serta menjaga kehangatan rumah pada malam hari.

Sebagai salah satu ikon wisata Lombok, Desa Sade berada di jalur utama antara Praya dan Kuta. Lokasinya sekitar 30 kilometer dari Kota Mataram.

Baca Juga: Hidden Valley Hills Purwakarta, Resort Mewah dengan Negeri di Atas Awan dan Infinity Pool Memukau

Dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, perjalanan menuju Desa Sade hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Sementara dari kawasan The Mandalika dapat ditempuh dalam waktu sekitar lima menit.

Saat memasuki area desa, pengunjung akan langsung disambut deretan rumah adat Sasak dengan atap alang-alang yang menjadi ciri khas permukiman Suku Sasak.

Bale Tani digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat, sedangkan Bale Lumbung berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen.

Baca Juga: Mountain Dew Resort Sumedang, Wisata Bernuansa Dataran Tinggi Dieng dengan Infinity Pool Memesona

Di Desa Sade juga terdapat tradisi kawin culik yang masih dikenal masyarakat. Dalam tradisi tersebut, para pemuda harus menculik pujaan hatinya sebagai bagian dari proses menuju pernikahan.

Selain itu, para perempuan Suku Sasak diwajibkan memiliki kemampuan menenun. Apabila belum bisa menenun, seorang perempuan tidak diperbolehkan menikah sesuai aturan adat yang berlaku.

Mayoritas masyarakat Desa Sade bekerja sebagai petani. Hasil panen yang diperoleh biasanya hanya sekali dalam setahun dan disimpan di lumbung tradisional yang berdiri di atas tumpukan kayu dengan atap dari alang-alang.

Baca Juga: Destinasi Wisata Kuliner Kemang yang Mewah, Queens Head Jadi Tempat Hangout Favorit di Jakarta Selatan

Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi di luar musim panen, masyarakat mengembangkan tradisi menenun Sasak yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat Suku Sasak, kemampuan menenun bukan hanya keterampilan ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Umumnya anak perempuan mulai belajar tradisi menenun Sasak sejak usia 7 hingga 10 tahun.

Salah satu hasil kerajinan yang terkenal adalah kain songket khas Suku Sasak yang dibuat dari perpaduan benang emas atau perak dengan benang katun maupun sutra.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Didit Fauzi Hendrian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X