BANDUNG, Mediapriangan.com - Berburu kuliner di Bandung tidak selalu harus berakhir di tempat makan yang sedang viral. Di antara banyaknya pilihan, ada sejumlah tempat yang justru bertahan karena mampu menjaga rasa dan tradisi selama puluhan tahun.
Salah satunya adalah Ayam Goreng Kurnia. Rumah makan ini telah menjadi bagian dari perjalanan kuliner Bandung sejak 1972 dan sampai sekarang masih mempertahankan sajian ayam goreng dengan racikan tradisional.
Usia panjang tersebut membuat Ayam Goreng Kurnia masuk dalam jajaran kuliner legendaris Bandung yang menarik untuk dicoba, terutama bagi pencinta hidangan sederhana dengan cita rasa khas.
Baca Juga: Siomay Bandung yang Bikin Penasaran, Baso Tahu Tulen, Shin Chan dan Baso Tahu Lina, Mana Favoritmu?
Yang menjadi pembeda terdapat pada proses pengolahan ayam. Daging yang digunakan berupa ayam pejantan segar dengan berat sekitar 8,5 ons. Ayam tersebut terlebih dahulu diungkep menggunakan bumbu kuning dan berbagai rempah.
Proses tersebut membuat bumbu meresap ke dalam daging sebelum ayam digoreng. Hasilnya adalah hidangan dengan cita rasa gurih yang menjadi salah satu karakter utama Ayam Goreng Kurnia.
Bagi wisatawan yang tengah mencari kuliner Bandung dengan konsep sederhana tetapi memiliki cerita panjang, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan. Menu yang ditawarkan pun tidak hanya berupa ayam goreng.
Baca Juga: Turun di Stasiun Bandung? Ini 4 Rekomendasi Wisata Kuliner yang Wajib Dicoba
Pengunjung dapat melengkapi hidangan dengan sejumlah lauk seperti usus, ampela, tahu, dan tempe. Sajian tersebut semakin lengkap ketika disantap bersama sambal khas dan lalapan segar.
Kombinasi ayam goreng, sambal, serta lalapan memberikan pengalaman makan yang sederhana sekaligus otentik. Konsep seperti inilah yang membuat kuliner legendaris Bandung tetap memiliki daya tarik di tengah bermunculannya berbagai tempat makan dengan konsep modern.
Warisan keluarga
Di balik keberlangsungan Ayam Goreng Kurnia terdapat peran generasi penerus. Saat ini, usaha tersebut dikelola oleh generasi kedua, Ibu Nung Syarifah, yang melanjutkan usaha peninggalan ayahnya.