PALANGKA RAYA, Mediapriangan.com - Keluhan warga mengenai kabut asap Palangka Raya kembali muncul di media sosial. Di tengah upaya pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sebagian masyarakat mengungkapkan kelelahan karena merasa suara mereka belum menghasilkan perubahan yang nyata.
Ungkapan tersebut disampaikan seorang pengguna Threads melalui akun @hachi** pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Pemilik akun mengaku sudah berulang kali menyuarakan persoalan kebakaran di wilayahnya, tetapi menilai penanganan yang dilakukan belum menjawab harapan warga.
“Jujur aku udh cape speak up tentang kebakaran hutan dan lahan disini karna rasanya percuma ga ada kebijakan penanganan yang benar-benar nyata,” tulis akun tersebut.
Baca Juga: F1 Singapura 2026 Tetap Digelar di Tengah Kabut Asap Karhutla, Hujan Sempat Tunda Sprint
Unggahan itu mencerminkan kekecewaan pribadi pemilik akun terhadap penanganan karhutla. Pernyataan tersebut bukan representasi seluruh warga, tetapi menunjukkan bahwa dampak kebakaran dan kabut asap juga memunculkan persoalan kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas penanganan di lapangan.
Di tengah keluhan mengenai kabut asap Palangka Raya, pemerintah kota memperpanjang status tanggap darurat karhutla mulai 8 Oktober hingga 9 November 2026.
Perpanjangan status tersebut ditujukan untuk menjaga kesiapan personel, posko penanganan, serta dukungan anggaran selama ancaman kebakaran masih berlangsung.
Baca Juga: Karhutla Kalsel Dekati RSJ Sambang Lihum, 167 Pasien Dievakuasi dari Ancaman Api di Lahan Gambut
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin menyampaikan bahwa penanganan diprioritaskan pada titik kebakaran yang berada dekat permukiman. Langkah ini dilakukan untuk mencegah api merambat dan mengancam rumah warga.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, tercatat 832 kejadian kebakaran sepanjang 1 Juni hingga 8 Oktober 2026. Total luas lahan yang terbakar mencapai 1.407,75 hektare.
Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak. Berikutnya adalah Kecamatan Sebangau, Bukit Batu, Pahandut, dan Rakumpit.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya tantangan penanganan karhutla di Palangka Raya. Selain memadamkan titik api, petugas juga perlu mencegah kebakaran baru agar dampaknya tidak semakin meluas.
Baca Juga: Karhutla Kaltim dan Kalbar Ganggu Sekolah, Asap Picu ISPA hingga Pembelajaran Daring
Artikel Terkait
67 Hari Lawan Karhutla di Kalbar, Relawan Akhirnya Bersujud Saat Hujan Turun dan Membasahi Tanah Gambut
Karhutla Kalsel Tewaskan 12 Bekantan, 21 Ribu Hektare Lahan Terbakar dan Tiga Helikopter Disiagakan
Andrew Kalaweit Hadapi Karhutla di Kalteng, Truk Angkut Kayu Gelondongan Justru Melintas di Tengah Hutan
Karhutla Jatim Makin Meluas, Gunung Buthak-Kawinajang Terbakar 1.000 Hektare, Water Bombing Terkendala Angin
Langit Kuning Selimuti Barito Utara, Kabut Asap Karhutla di Kalimantan Tengah Ganggu Aktivitas Warga
Karhutla Kayong Utara Belum Padam, Selang Tak Sampai Titik Api hingga Petugas Harus Basahi Area Agar Api Tak Merembet