• Minggu, 11 Oktober 2026

Kabut Asap Palangka Raya Belum Mereda, Warga Lelah Bersuarа di Tengah Ribuan Hektare Karhutla

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:24 WIB
Kabut asap Palangka Raya masih dikeluhkan warga di tengah perpanjangan status darurat karhutla dan catatan 1.407,75 hektare lahan terbakar. (Threads/@hachi***)
Kabut asap Palangka Raya masih dikeluhkan warga di tengah perpanjangan status darurat karhutla dan catatan 1.407,75 hektare lahan terbakar. (Threads/@hachi***)

Dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lahan. Kualitas udara yang memburuk turut memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar.

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik PAUD, SD, dan SMP hingga 10 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah kualitas udara sebelumnya terpantau berada dalam kategori berbahaya.

Pengalihan pembelajaran menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak selama kondisi udara belum aman untuk aktivitas di luar ruangan.

Baca Juga: 4.987 Warga Pekanbaru Kena ISPA di Tengah Asap Karhutla, Pasien Harian Naik Hampir 2 Kali Lipat

Persoalan kebakaran hutan dan lahan dengan demikian turut memengaruhi rutinitas keluarga dan sekolah. Penanganan kebakaran menjadi penting bukan hanya untuk menghentikan api, melainkan juga untuk mengurangi dampak kesehatan dan sosial yang muncul akibat asap.

Pemerintah daerah menyatakan koordinasi lintas instansi dan kesiapsiagaan petugas akan terus dilakukan. Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

Perpanjangan status darurat karhutla menunjukkan bahwa pemerintah masih menempatkan ancaman kebakaran sebagai persoalan yang memerlukan penanganan berkelanjutan selama periode tersebut.

Baca Juga: Karhutla Kayong Utara Belum Padam, Selang Tak Sampai Titik Api hingga Petugas Harus Basahi Area Agar Api Tak Merembet

Namun, bagi warga, dampak yang dirasakan sehari-hari juga menjadi ukuran penting. Asap yang mengganggu aktivitas dan kekhawatiran terhadap kualitas udara membuat penanganan kebakaran tidak bisa hanya dinilai dari kesiapan petugas atau jumlah titik api yang ditangani.

Keluhan yang muncul di media sosial memperlihatkan adanya harapan agar upaya penanganan memberikan hasil yang lebih terasa bagi masyarakat.

Di tengah perpanjangan masa tanggap darurat hingga November, perkembangan kebakaran, kondisi udara, dan perlindungan warga tetap menjadi perhatian di Palangka Raya.***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X