"Kita sebenarnya sudah memiliki security food dengan peralatan dan laboratorium yang lengkap. Saya akan meningkatkan lagi pengawasan, terutama pemeriksaan makanan yang beredar di masyarakat," ungkapnya.
"Saat ini, fokus pemeriksaan di depan sekolah terutama terkait dengan ontan-ontan (pewarna) pada makanan. Namun, peristiwa ini terjadi di luar perkiraan," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya mencari penyebab dugaan keracunan makanan ini, terutama melalui sampel yang diambil dari muntahan para pasien.
"Keluhan yang dilaporkan oleh para pasien merupakan gejala umum dari keracunan makanan, termasuk muntah dan diare," ujarnya.
Kami masih terus melakukan penyelidikan dan mencari penyebabnya, khususnya melalui analisis sampel dari muntahan para pasien.
"Beberapa keluhan yang terjadi mungkin karena sudah lebih dari 8 jam dan telah mengalami fermentasi," terangnya.***