Meskipun keuntungan dari panen perdana ini belum signifikan, dengan keuntungan per ekor ayam mencapai Rp 10 ribu, Reza optimis akan perkembangan program ini di masa depan.
"Ini adalah pertama kalinya kami menjalankan program ini, sebelumnya kami hanya beternak ayam pelung," jelasnya.
Reza juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam beternak ayam kampung, terutama terkait dengan karakter ayam yang aktif dan tingkat kanibalisme yang tinggi.
"Kami harus mengantisipasi hal ini agar angka kematian tetap rendah," tambahnya.
Acara panen perdana ini merupakan bukti nyata kolaborasi yang baik antara pemerintah, peternak, dan pihak swasta dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan menanggulangi inflasi di Kota Tasikmalaya.
Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam menghadapi tantangan serupa dan menciptakan solusi berkelanjutan bagi sektor peternakan.***