LAPAN juga mengungkap bahwa intervensi TMC di Lampung dan Selat Sunda pada sore hari sebelum kejadian tidak memberikan hasil signifikan.
Bahkan, intervensi ini dinilai berisiko karena berpotensi memperburuk dampak cuaca ekstrem.
Mengapa TMC Bisa Berbahaya?
Menurut LAPAN, ada tiga alasan utama mengapa operasi modifikasi cuaca dapat menimbulkan dampak negatif jika dilakukan dalam kondisi atmosfer tertentu:
Sifat atmosfer yang kompleks dan tidak terprediksi
Perubahan kecil dalam satu wilayah dapat berdampak besar pada wilayah lain karena atmosfer saling terhubung dalam skala regional hingga global.
Cold pool bisa memperluas hujan, bukan menguranginya
Percepatan hujan dalam awan konvektif justru dapat meningkatkan aktivitas cold pool, memperluas cakupan hujan alih-alih menghentikannya.
Potensi terbentuknya rainband dan squall line
Jika TMC dilakukan saat ada peningkatan kecepatan angin atau konvergensi udara, bisa terbentuk pita hujan besar atau bahkan garis badai yang menyebar ratusan kilometer dari lokasi modifikasi.
BPPT sendiri telah menerjunkan tim TMC pada 24 Februari 2021 untuk menghadapi potensi siklon tropis yang diperkirakan membawa hujan deras di Jabodetabek hingga 25 Februari 2025.
Dengan berbagai peringatan dari BMKG serta kajian dari LAPAN, kesiapsiagaan menjadi faktor kunci dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Langkah pencegahan yang tepat akan menentukan keberhasilan dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di masa depan.***