Ia juga menyentil gaya kepemimpinan yang menurutnya hanya mengandalkan protokoler, pencitraan, dan perjalanan dinas ke luar negeri.
“Daripada gubernur yang tidur, gubernur protokoler, gubernur yang ingin dihargai, gubernur yang habiskan anggaran buat jalan-jalan ke luar negeri. Teu hayang teuing aing,” ucapnya dalam logat khas Sunda.
Dedi dan Gaya Kepemimpinan Baru
Melalui pendekatan digital dan transparansi aktivitas, Dedi seolah ingin menegaskan bahwa pejabat publik di era modern perlu membangun kedekatan dengan rakyat secara nyata dan terbuka.
Bagi Dedi, aktivitas konten bukan sekadar pencitraan, melainkan alat penggerak sosial dan saluran langsung menyalurkan manfaat.
Tak heran jika banyak warganet yang justru mendukung cara kerja Dedi yang dianggap berbeda namun berdampak langsung.***