Pemerintah daerah juga mengirim alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutup akses jalan dan rumah korban. Hingga Minggu sore, proses pembersihan masih berlangsung di area bencana.
“Kami minta warga yang tinggal di lereng dan bawah tebing untuk segera mengungsi bila curah hujan meningkat. Kondisi tanah di wilayah Bendungan masih labil,” tegas Stefanus, mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap korban tanah longsor berikutnya.
Kisah Pilu Satu Keluarga Tertimbun Longsor
Kapolsek Bendungan, AKP Rudi Sugiarto, membenarkan bahwa seluruh korban merupakan satu keluarga.
Baca Juga: Polisi Ungkap Kronologi Penangkapan Onadio Leonardo di Ciputat Timur, Terkait Kasus Narkoba
“Yang meninggal dunia adalah suami istri Sarip (60) dan Welas (53), serta kedua anaknya, Rohman (15) dan Fajar Puji Wibowo (19),” terang Rudi.
“Sedangkan yang selamat adalah anaknya, Wijianto (30),” tambahnya.
Peristiwa longsor Trenggalek itu terjadi ketika seluruh anggota keluarga tengah berada di dalam rumah.
“Sarip dan istrinya sedang istirahat di kamar, Fajar dan Rohman berada di ruang tamu, sementara Wiji berada di bilik belakang rumah,” tutur Rudi.
Baca Juga: Pemerintah Bahas Diskon Tarif Tol Nataru 2026, Menteri PU Akui Negosiasi dengan BUJT Masih Alot
Sekitar pukul 21.00 WIB, tebing di belakang rumah longsor hebat. “Kondisi cuaca sedang hujan. Kemudian tebing di belakang rumah tiba-tiba longsor dan menimpa rumah,” ujarnya.
Hingga kini, aparat masih menyiapkan lokasi pengungsian sementara bagi warga sekitar yang rumahnya berpotensi terdampak longsor Trenggalek susulan.
Pemerintah daerah juga terus memantau stabilitas tanah dan melakukan langkah antisipasi agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.***