Mereka adalah, Andi Jaelani (Ibo), Sepia Pebrian Putra Prasetya (Cevi Whiesa), Hendra Juniarsa Rustandi, Falhan Basya (Aang The Great) Iip Samsul Ma’arif (Iip Borelak), Hendra S. Wijaya (Pongkir Wijaya), Cecep Hermawan (Ki Lanang), dan Tatang Suprihatna Sumpena (Tatang Pahat).
Baca Juga: Malam Anugerah Budaya 2025, DKKT Rayakan Dedikasi dan Estafet Kepemimpinan Seni Kota Tasikmalaya
Masing-masing calon membawa latar belakang dan visi yang berbeda. Musisi senior Andi Ibo, misalnya, menyebut dirinya ingin berkontribusi lebih bagi kemajuan kesenian di kampung halaman setelah lama berkarya di Jakarta.
"Dunia kesenian bukan hal baru bagi saya. Saya ingin berbuat untuk musik dan seni di Tasikmalaya,” ujar Andi.
Sementara Cevi Whiesa, budayawan muda yang maju secara independen, menekankan pentingnya pembaruan organisasi. "Kepengurusan DKKT ke depan harus lebih efektif dan progresif,” ucap Cevi.
Hendra Juniarsa Rustandi, Wakil Ketua DKKT periode 2020-2025 sekaligus penggerak Komunitas Budaya Sundawani, turut mencalonkan diri dengan visi memperkuat sinergi antarkomunitas.
Nama Falhan Basya, musisi senior era 1990-an, juga mencuri perhatian. Ia bertekad menjadikan DKKT sebagai jembatan antara pelaku seni lokal dengan jaringan nasional dan internasional.
Dari ranah seni humor tradisional, Iip Borelak membawa semangat untuk menjaga kesenian rakyat yang bernilai religius. Sementara Cecep Hermawan (Ki Lanang) menegaskan komitmennya memperkuat struktur dan peran DKKT sebagai lembaga yang menaungi seluruh cabang seni.
Adapun Pongkir Wijaya dan Tatang Pahat, dua sosok yang dikenal lewat karya teater bernuansa sosial dan budaya Sunda, dinilai memiliki basis kuat di dunia seni panggung Tasikmalaya.***