daerah

Tungkai Bengkak dan Nyeri Berulang? RSUD KHZ Musthafa Jelaskan Risiko Gangguan Vena Kronis dan Bahayanya

Kamis, 20 November 2025 | 09:11 WIB
Kabid Yankes RSUD KHZ Musthafa, dr. Aa Ahmad Dimyati, memberikan penjelasan mengenai gejala bengkak dan nyeri tungkai yang dapat mengarah pada gangguan vena kronis. (D. Farhan Kamil)

Mediaprianga.com - Kasus pembengkakan kaki, nyeri betis, dan sensasi kaki berat, kini semakin banyak ditemukan di masyarakat. RSUD KHZ Musthafa mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak boleh diremehkan karena bisa menjadi tanda Deep Vein Thrombosis (DVT) atau Chronic Venous Insufficiency (CVI), dua penyakit vena yang dapat berdampak serius bila tidak ditangani sejak dini.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya, dr. Aa Ahmad Dimyati, Sp.B, Subsp.BVE(K), MM.Kes menyebutkan, DVT adalah kondisi ketika terbentuk gumpalan darah pada pembuluh vena dalam, umumnya di betis atau paha.

Dokter menjelaskan bahwa DVT dapat terjadi akibat kerusakan dinding pembuluh vena, aliran darah yang lambat (stasis), dan kondisi darah yang mudah menggumpal (hiperkoagulabilitas).

Baca Juga: RSUD KHZ Musthafa Perkuat Layanan Pembuluh Darah dengan CT Angiografi, Cathlab Siap Beroperasi 2026

Gejala DVT ini kata dr Aa sekaligus dokter spesialis bedah vaskular endovaskular satu-satunya di Priangan Timur ini, meliputi pembengkakan satu sisi tungkai, rasa pegal dan nyeri seperti tertarik, kulit mengkilat, terasa hangat di area yang bengkak, dan pitting edema (muncul cekungan ketika ditekan).

"Bila tidak segera ditangani, gumpalan darah dapat bergerak ke paru-paru dan menyebabkan emboli paru, kondisi yang dapat berakibat fatal," ujar Aa, Kamis (20/11/2025).

Untuk memastikan DVT terang Aa, dokter melakukan sejumlah pemeriksaan yaitu, USG Doppler vena (paling umum dan cepat), Venografi CT atau MR Venografi untuk kasus kompleks.

Baca Juga: Dokter Vaskular RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya Edukasi Warga Terkait Luka Kaki Menghitam

"Deteksi dini sangat krusial. Jangan menunggu bengkak semakin parah, karena risikonya bisa mengancam nyawa,” tegas Aa.

Lebih lanjut ia menjelaskan, penatalaksanaan DVT mencakup antikoagulan seperti heparin, adroparin, warfarin. Kemudian stoking kompresi untuk membantu sirkulasi, filter vena cava bagi pasien risiko tinggi, dan trombektomi untuk mengangkat bekuan darah secara langsung.

"Terapi dipilih berdasarkan tingkat keparahan dan kondisi klinis pasien," ucap Aa.

Selain DVT sambung Aa, masyarakat juga banyak mengalami Chronic Venous Insufficiency (CVI) atau insufisiensi vena kronis. Kondisi ini terjadi ketika katup di vena kaki melemah atau rusak, sehingga darah mengalir kembali ke bawah dan menyebabkan penumpukan.

Baca Juga: RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya Layani Pembuatan Akses Hemodialisis, Pasien Tak Perlu Dirujuk ke Bandung

Faktor Risiko CVI antara lain, riwayat DVT, obesitas, kehamilan, kurang bergerak atau terlalu lama berdiri, riwayat keluarga, dan varises.

Halaman:

Tags

Terkini