Setiap hari, para pengungsi menggantungkan harapan pada distribusi logistik yang masuk ke pos-pos pengungsian. Bantuan berupa makanan, perlengkapan anak, hingga lilin penerangan menjadi penopang utama kehidupan sementara mereka.
Tragedi banjir bandang Aceh yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga mengguncang nilai-nilai dasar masyarakat.
Kini, kebutuhan sederhana seperti makanan dan cahaya di malam hari menjadi simbol dari perjuangan hidup para penyintas pengungsi banjir Aceh Tamiang yang masih bertahan dalam ketidakpastian.***