“‘Jadi, mereka lebih berhak mendapatkanya lebih dulu daripada kami. Sedangkan kami yang hancur hanya rumah, yang hilang harta, akses kami masih bisa dikunjungi relawan,’” ucapnya menirukan perkataan warga tersebut.
Baca Juga: Relawan Bidan Nyaris Terseret Arus Sungai Kala Ili Aceh Tengah Saat Akses Terputus Pascabanjir
“Itu membuat saya terkejut, ternyata saudara-saudara kita di Aceh Tamiang ini walaupun mereka kena musibah yang sama, rumah mereka hilang, harta hilang, mereka sesama korban banjir, mereka menganggap yang dirasakan masih ada orang yang membutuhkan,” tuturnya.
Sementara itu, pembangunan Huntara bagi Warga Aceh Tamiang terus dikebut oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Huntara ini disiapkan sebagai hunian sementara bagi korban Banjir Sumatera yang kehilangan tempat tinggal.
Progres pembangunan Huntara di Aceh Tamiang ditargetkan mencapai sekitar 75 persen dengan tujuh blok bangunan modular.
Baca Juga: Sempat Disebut Rp150 Juta, Sumur Bor di Aceh Timur Ternyata Dibuat Warga Hanya Rp15 Juta
Setiap blok Huntara dirancang menampung 12 kepala keluarga, sehingga total kapasitas Huntara dapat menampung puluhan Warga Aceh Tamiang.
Kawasan Huntara tersebut dilengkapi fasilitas dasar seperti toilet komunal, listrik, dan jaringan air bersih.
Huntara diharapkan dapat menjadi tempat tinggal sementara yang layak bagi penyintas Banjir Sumatera selama masa pemulihan berlangsung.***