TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Festival Pamali 2026 yang digelar di Gedung Kesenian Komplek Dadaha Kota Tasikmalaya mampu mengingatkan kembali pesan-pesan atau pepatah orang tua yang dulu sering didengar.
Suasana masa lalu terasa begitu kuat ketika di setiap sudut ruangan terpajang tulisan-tulisan pepatah orang tua bernada larangan khas Sunda yang biasa disebut "Pamali".
Ratusan pengunjung mulai dari pelajar hingga mahasiswa memadati lokasi Festival Pamali 2026. Mereka tidak hanya datang untuk sekadar melihat-lihat, tetapi juga bernostalgia sekaligus mempelajari pesan-pesan orang tua masa lalu, khususnya menyangkut larangan atau yang biasa disebut pamali.
Nuansa khas Sunda masa lalu (buhun) semakin kental ketika Festival Pamali 2026 tersebut menyuguhkan beragam kesenian tradisional seperti pertunjukan Ambu Midang dengan tarian Payung Geulis, orasi budaya, tarian daerah, atraksi pencak silat, seni lengser, teater, hingga musik jaipong.
Penampilan anak-anak Kota Tasikmalaya dalam seni lengser bahkan mampu mendapat aplaus dari penonton yang merasa terhibur, termasuk kagum atas tampilan tersebut.
Sesepuh Ngaos Art Foundation, Dwi Febriana, mengatakan, festival bertujuan menghidupkan kembali makna "pamali" yang kini mulai jarang diucapkan.
Baca Juga: Gandeng Unsil, DKKT Siapkan Digitalisasi Arsip dan Kajian Sejarah Budaya Tasikmalaya
"Dulu kita sering dengar 'pamali calik di lawang panto', 'pamali nyapu peuting'. Itu bukan sekadar larangan atau hal mistis. Di balik itu ada pesan moral, etika, dan kearifan lokal orang Sunda," jelas Dwi.
Menurutnya, lewat festival tersebut pihaknya ingin anak muda tahu tentang apa saja yang dikatakan pamali.
"Pamali itukan bentuk pendidikan karakter. Isinya tentang menjaga sopan santun, menjaga alam, dan menjaga diri," tegasnya.
Ia berharap setelah acara ini, kata pamali tidak berhenti jadi kenangan.
"Kami ingin pamali kembali hidup di rumah-rumah, jadi pengingat orang tua ke anak-anaknya," ujar Dwi.