Keluarga kemudian tetap berusaha meyakinkan dokter agar pasien dapat menjalani perawatan karena kondisi ketika berada di rumah disebut sudah parah.
"Tapi keluarga masih meyakinkan dokter untuk bapak dirawat karena di rumah kondisinya sudah parah," ungkapnya.
Baca Juga: Viral SPBU Cipatujah, Hiswana Migas Priangan Timur Ungkap Soal Jerigen dan Pelayanan Konsumen
Nidia juga mengaku kecewa dengan arahan yang diterima keluarga terkait langkah selanjutnya apabila kondisi ayahnya tidak membaik.
"Hal yang menyakitkan, dokter bertugas bilang kalau 3 hari bapak tidak ada perubahan, dibawa ke puskesmas," ujar Nidia.
Menurut Nidia, kondisi ayahnya saat itu sudah cukup berat sehingga ia mempertanyakan alasan pasien diarahkan kembali ke puskesmas.
"Kenapa puskesmas? padahal bapak kondisinya sudah drop parah," sambungnya.
Dibawa ke rumah sakit lain
Merasa belum mendapatkan penanganan yang diharapkan di RSUD Merah Putih Magelang, keluarga kemudian membawa pasien ke RS Aisyiyah Muntilan.
Setibanya di rumah sakit tersebut, Nidia menyebut ayahnya menjalani sejumlah pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain pengambilan sampel darah dan rontgen.
Pasien juga disebut mendapatkan arahan untuk menjalani rawat inap. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena sang ayah akhirnya meninggal dunia beberapa hari kemudian.
Baca Juga: Seskab Teddy Masuk Tiga Besar Pejabat Paling Positif, Popularitasnya Juga Tinggi Versi IPO
Bagi Nidia Aurelia, meninggalnya sang ayah merupakan bagian dari takdir. Meski demikian, pengalaman yang dialaminya saat mencari pertolongan medis masih membekas dan mendorongnya menyampaikan cerita tersebut kepada publik.
"Takdir memang tidak bisa diubah, tetapi usaha, kepedulian, dan tanggung jawab jangan sampai dikurangi," terangnya.