Daratan Baru di Dekat Gunung Anak Krakatau Bikin Heboh, Daryono Ungkap Apakah Bisa Jadi Gunung Api Baru

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 24 September 2026 | 19:14 WIB
Daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung disebut bukan gunung api baru. Daryono menjelaskan proses terbentuknya. (Instagram.com/@cretivox)
Daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung disebut bukan gunung api baru. Daryono menjelaskan proses terbentuknya. (Instagram.com/@cretivox)

 

BANTEN, Mediapriangan.com - Sebagian publik di media sosial tengah ramai menyoroti keberadaan daratan baru yang muncul di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, pada perairan Selat Sunda.

Setelah erupsi yang terjadi pada awal September 2026 lalu, Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkap adanya daratan baru tersebut seluas 32,8 hektare.

Tak ayal, kemunculan daratan baru tersebut sempat memicu kebingungan dan spekulasi dengan kemunculan isu kelahiran 'Cucu Krakatau'.

Atas fenomena ini, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti, memberikan analisis terkait isu kemunculan gunung api baru di perairan Selat Sunda.

Baca Juga: Fenomena Telur Ceplok Muncul di Kawah Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan soal Genangan Air Bercampur Belerang

Menurut Daryono, daratan tersebut bukan gunung api baru independen, melainkan sebuah endapan dari material vulkanik hasil erupsi.

"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut," tulis Daryono dalam akun media sosialnya, pada Kamis, 24 September 2026.

"Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air," tambahnya.

Baca Juga: Hari ke-5, Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Banten: Pencarian Gunung Anak Krakatau Terus Diperluas Tim SAR Gabungan

Ada di Antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung

Daryono memastikan, terbentuknya daratan baru itu terjadi di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.

Hal tersebut dinilai telah dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis.

Terlebih, dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Enam Jalan Belum Beres, Warga Kembali Menunggu

Kamis, 24 September 2026 | 15:52 WIB

SOR Mangunreja Dikebut, Rp72 Miliar Siap Digelontorkan

Kamis, 24 September 2026 | 12:16 WIB
X