Keluhan yang dialami para siswa meliputi demam, pusing, mual, muntah hingga diare. Siswa yang mengalami gejala kemudian dibawa ke Puskesmas Palupuh untuk mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: 293 Santri Diduga Keracunan MBG di Sidoarjo, Dirawat di 8 Rumah Sakit hingga SPPG Akan Diperiksa
Pemerintah Tunggu Hasil Pemeriksaan
Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal membenarkan adanya kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi di Palupuh. Namun, penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses pemeriksaan.
Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM telah berkoordinasi untuk melakukan investigasi terhadap makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat.
"Kita menduga setelah mengkonsumsi makanan dari dapur MBG yang ada di Palupuh," ucap Iqbal kepada awak media di Agam, pada Rabu, 2 September 2026.
"Saat ini antara Dinas Kesehatan dan BPOM sudah kordinasi untuk investigasi memastikan penyebabnya," jelasnya.
Baca Juga: Keracunan MBG Berulang, Dapur 3.000 Porsi Disorot: Benarkah Program Ini Bawa Manfaat Ekonomi?
Dapur Penyedia MBG Diminta Berhenti Sementara
Di tengah proses investigasi, Pemerintah Kabupaten Agam meminta dapur SPPG yang diduga menjadi sumber makanan para korban untuk tidak beroperasi sementara.
Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal menegaskan penghentian tersebut dilakukan sampai pemeriksaan mengenai penyebab kejadian selesai.
"Untuk sementara, kita meminta agar dapur MBG tidak beroperasi dulu sampai hasil investigasi keluar," tegas Iqbal pada hari yang sama.
Wali Nagari Koto Rantang Novri Agus Parta Wijaya menyebut makanan MBG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut berasal dari satu dapur di wilayah Palupuh.
Dapur tersebut diketahui bernama Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.
Penghentian operasional dilakukan sementara sembari Dinas Kesehatan dan BPOM menelusuri penyebab dugaan keracunan MBG yang menimpa ratusan penerima manfaat di Palupuh.***