daerah

Erupsi Gunung Anak Krakatau Berulang, Asap Diprediksi Tembus 13 Km dan Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km

Sabtu, 5 September 2026 | 14:17 WIB
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi. BRIN menyoroti kolom asap yang diprediksi mencapai 13 km, sementara warga diminta menjauh 3 km. (Instagram.com / halokrw - bantenraya - _yusufmuhammad)

 

BANTEN, Mediapriangan.com - Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah erupsi berulang terjadi sejak Jumat, 4 September 2026 hingga Sabtu, 5 September 2026 dini hari di kawasan Selat Sunda.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III Siaga. Berdasarkan laporan Magma ESDM periode 00.00 hingga 06.00 WIB pada Sabtu, 5 September 2026, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III dan asap kawah tidak teramati. Cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang menuju barat laut.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat dan pengunjung diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Bayar Pajak Kendaraan Tanpa Turun dari Mobil, Ini 15 Lokasi Samsat Drive Thru di Jawa Barat

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya juga dilaporkan berlangsung berulang. Sejumlah letusan terekam melalui seismograf, sementara beberapa aktivitas erupsi dapat teramati secara visual.

Perhatian lain muncul setelah Peneliti senior dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menyoroti keberadaan asap tebal dari Gunung Anak Krakatau.

Melalui akun X pribadinya, @EYulihastin, pada Sabtu, 5 September 2026, Erma menyebut semburan asap tebal yang terlihat dari satelit diprediksi dapat mencapai ketinggian belasan kilometer.

"Kalau sampai secoklat ini terpantau satelit padahal di atas lautan, berarti letusannya tebal nih (erupsi Gunung Anak Krakatau)," tulis Erma.

Baca Juga: 4 Kuliner Ciledug Tangerang yang Lagi Hits, Ada Ayam Goreng Bawang Putih hingga Liwet Bakar

"Ketinggian kolom diestimasi 13 km, itu sudah menembus hampir ke lapisan tropopause," tambahnya.

Menurut Erma, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena material erupsi yang mencapai lapisan tinggi atmosfer berpotensi terbawa sirkulasi udara menuju wilayah yang lebih jauh.

"Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley," ungkap Erma.

Dalam analisisnya, Erma juga menyebut aktivitas Gunung Anak Krakatau menghasilkan gemuruh dan lava fountain atau lava air mancur.

Halaman:

Tags

Terkini