“Wali Kota tidak punya roadmap pemimpin. Tidak ada perencanaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang jelas. Akibatnya, semua berjalan tanpa arah," Katanya.
Lebih jauh, Habib menilai situasi carut-marut ini dimanfaatkan oleh orang-orang di sekeliling Wali Kota yang mengaku dekat dengan kekuasaan.
Baca Juga: Kejurdo V BKC Kota Tasikmalaya, Ratusan Karateka Berebut Tiket ke Kejurprov Jawa Barat
Muncul kelompok yang bermain proyek, menarik uang ke pengusaha, dan melakukan manuver untuk kepentingan pribadi dengan mencatut nama Wali Kota.
"Ini bahaya. Ketika pemimpin lemah, maka akan muncul matahari-matahari kecil di sekelilingnya. Ada yang bermain proyek, narik duit ke pengusaha, mengaku orang dekat Wali Kota,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti mandulnya fungsi pengawasan DPRD Kota Tasikmalaya. Sebagai lembaga legislatif yang seharusnya menjadi penyeimbang kekuasaan eksekutif, DPRD dinilai terkesan bungkam dan tidak bersuara terhadap kondisi yang terjadi saat ini.
"Fungsi pengawasan DPRD di mana? Mereka diam melihat birokrasi carut-marut, melihat ASN menjerit karena TPP dipotong, melihat pembangunan tidak jelas arahnya. DPRD jangan hanya jadi stempel,” pungkasnya.
Habib berharap ada evaluasi total terhadap tata kelola pemerintahan agar Kota Tasikmalaya tidak semakin tertinggal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan baik dari Pemkot maupun pihak DPRD atas penilaian masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kota Tasikmalaya tersebut.***