KMP Kota Tasikmalaya Terkendala Regulasi, Potensi Distribusi Subsidi Dinilai Besar

photo author
Dede Farhan Kamil, Media Priangan
- Selasa, 15 September 2026 | 18:43 WIB
Ketua Forum KKMP Kota Tasikmalaya Sofyan Muhtar saat membahas Koperasi Merah Putih.   (Doc. Tangkapan Layar YouTube/Kostatv)
Ketua Forum KKMP Kota Tasikmalaya Sofyan Muhtar saat membahas Koperasi Merah Putih. (Doc. Tangkapan Layar YouTube/Kostatv)

 

TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Koperasi Merah Putih (KMP) di Kota Tasikmalaya dinilai memiliki peluang besar menjadi bagian dari sistem ekonomi masyarakat, termasuk dalam memangkas rantai distribusi barang subsidi.

Namun, potensi tersebut belum dapat berjalan optimal karena masih terkendala kejelasan aturan teknis dan legal standing koperasi dalam menjalankan usaha.

Persoalan itu mengemuka dalam Podcast Tabir: Tasikmalaya Bicara Episode 1 yang menghadirkan Ketua Forum Komunikasi KKMP Kota Tasikmalaya Sofyan Muhtar, S.IP., M.M., Sekretaris Mulia Anshori, S.H., dan Bendahara Davi Zulfikar, S.E.

Baca Juga: SOKSI Dorong Aparat Verifikasi Dugaan Peredaran Pita Cukai Palsu

Forum KKMP menilai, KMP tidak semestinya hanya diposisikan sebagai tempat transaksi, tetapi dapat menjadi instrumen ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sebagai anggota sekaligus penerima manfaat.

Sekretaris Forum KKMP Kota Tasikmalaya, Mulia Anshori mengatakan, salah satu fungsi yang dapat dikembangkan adalah memperpendek mata rantai distribusi barang kebutuhan masyarakat, termasuk barang subsidi.

Ia mencontohkan distribusi gas LPG di wilayah Setianegara, Kecamatan Cibeureum, yang memiliki sekitar 3.000 kepala keluarga.

Berdasarkan kondisi yang disampaikan dalam podcast, harga eceran tertinggi (HET) gas di Tasikmalaya berada di kisaran Rp16.000, sementara harga yang dibayar masyarakat di lapangan dapat mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000.

Baca Juga: 129 Korban Masih Dicari, KM Virgo Bergeser 1,6 Mil dan Tim SAR Belum Berani Paksa Penyelam Masuk

Menurut Mulia, apabila koperasi dapat memperoleh pasokan langsung dengan harga dasar yang lebih rendah, selisih harga tersebut dapat ditekan sehingga masyarakat mendapatkan barang dengan harga lebih terjangkau, sementara koperasi tetap memperoleh margin usaha.

Ia mencontohkan, apabila koperasi memperoleh gas dengan harga Rp12.000 dan menjualnya Rp16.000, terdapat margin Rp4.000 per tabung yang dapat menjadi pendapatan koperasi.

Dengan asumsi kebutuhan satu tabung per kepala keluarga setiap pekan dan jumlah anggota mencapai 3.000 KK, perputaran usaha tersebut diperkirakan mencapai 3.000 tabung per minggu. Jika margin Rp4.000 per tabung, potensi margin usaha mencapai Rp12 juta dalam satu minggu.

“Jadi ketika Pak Prabowo mengatakan bahwa Koperasi Merah Putih akan dapat keuntungan Rp1 miliar, dengan sebulan dapat Rp48 juta itu memungkinkan, kalau keinginan Pak Presiden tersebut dieksekusi,” ujar Mulia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dede Farhan Kamil

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X