daerah

Terkait KKS Jabar Hanya 18 Kota/Kabupaten Yang Lolos ODF

Sabtu, 8 April 2023 | 00:12 WIB
Sekretaris Daerah Provinsi Jabar Setiawan Wangsaatmaja membuka acara Pembinaan dan Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat (KKS) di Jawa Barat, di Gedung Sate, Kota Bandung. (Biro Adpim Jabar)

Mediapriangan.com - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja mengatakan, terkait dengan penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat (KKS) di Jabar, pada tahun ini hanya ada 18 kota/kabupaten dari 27 kota/kabupaten di Jabar, yang lolos sarat. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jabar, ke-18 kabupaten/kota tersebut telah lolos syarat desa/kelurahan Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan, minimum 80 persen.

Desa/kelurahan ODF, kata Setiawan adalah yang 100 persen masyarakatnya telah buang air besar (BAB) di jamban sehat.

Baca Juga: 4 Cara Simpel Menikmati Buah Delima yang Menyenangkan dan Dapatkan Khasiat Luar Biasa

Demikian hal itu dikemukakan Sekda seusai membuka acara Pembinaan dan Penyelenggaraan KKS di Jawa Barat, di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis, 6 April 2023.

"Tahun ini sebagai tahun ganjil merupakan tahun verifikasi untuk kompetisi Penghargaan Swastisaba," ujar Setiawan.

Dia menyebutkan, salah satu target pembangunan suatu pemerintahan, yaitu mempunyai KKS.

Baca Juga: Delima: Buah yang Dipuji Dalam Al-Quran dan Dipercaya Oleh Para Peneliti, Inilah Manfaat dan Khasiatnya

"Memiliki derajat kesehatan yang tinggi itu, tentu menjadi idaman bagi pimpinan dan masyarakat," ucap Setiawan.

Menurutnya, peningkatan derajat kesehatan dipengaruhi oleh faktor lingkungan sebesar 40 persen. 

Kemudian 30 persennya dari faktor perilaku. Yakni bagaimana masyarakat bisa melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Baca Juga: Heran! Rumah Kayu di Kabupaten Cianjur Ditawar Rp2 Miliar Ditolak Sang Pemilik, Apa Alasannya?

“Untuk faktor pelayanan kesehatan hanya 20 persen saja untuk menentukan derajat kesehatan. Jadi seandainya berbicara KKS bekerja sama dengan Dinas kesehatan, artinya itu hanya membidik 20 persen saja,” tutur dia. 

Sedangkan yang 10 persennya lagi kata Setiawan, adalah faktor genetik, dan ini yang sulit.

Halaman:

Tags

Terkini