"Hari ini kita sedang diuji, dimana muncul pandangan dan tindakan yang mengancam kebhinekaan dan keikaan. Saat ini ada sikap tidak toleran dan mengusung ideologi selain Pancasila," tutur Aef.
Masalah tersebut lanjut dia, semakin mencemaskan tatkala diperparah oleh penyalahgunaan media sosial yang banyak menggabungkan hoax alias berita bohong.
"Kita perlu belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme. konflik sosial, terorisme dan perang saudara. Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, nyatanya hingga hari ini kita bisa terhindar dari masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk memajukan negeri dengan adanya Pancasila," ujar dia.
Ditambahkan, Indonesia adalah harapan dan rujukan masyarakat internasional untuk membangun dunia yang damai, adil dan makmur di tengah kemajemukan.
"Saya mengajak peran aktif para ulama, ustadz, pendeta, pastor, biksu, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI/Polri serta seluruh komponen masyarakat, untuk menjaga Pancasila. Pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus terus ditingkatkan," katanya.***