Gen Z Merajai Gig Ekonomi, Tapi Masih Dihadapkan Tantangan Berat dalam Mengatur Stabilitas Finansial

photo author
Didit Fauzi Hendrian, Media Priangan
- Senin, 1 September 2025 | 08:40 WIB
Ilustrasi kelompok generasi Z atau familiar disebut Gen Z saat memasuki era Gig Ekonomi.  (Freepik.com)
Ilustrasi kelompok generasi Z atau familiar disebut Gen Z saat memasuki era Gig Ekonomi. (Freepik.com)

Mediapriangan.com - Generasi Z kini semakin akrab dengan gig ekonomi, yakni pola kerja berbasis kontrak jangka pendek atau proyek lepas yang umumnya bergantung pada platform digital.

Bagi sebagian besar anak muda, pekerjaan fleksibel ini bukan lagi sekadar aktivitas tambahan, melainkan sumber penghasilan utama.

Laporan Bank Dunia pada 2023 mencatat lebih dari 435 juta pekerja lepas di seluruh dunia, setara 12,5 persen dari total tenaga kerja global. Angka ini diprediksi akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Gaji Tetap atau Upah per-Jam, Mana yang Lebih Menguntungkan untuk Finansial dan Keseimbangan Hidup?

Direktur Utama Black Mammoth, Stoy Hall, menilai tren ini membawa peluang sekaligus risiko.

“Mereka punya fleksibilitas, otonomi, dan banyak sumber penghasilan. Itu luar biasa. Tapi mereka juga kehilangan hal-hal penting untuk masa depan, seperti pensiun, asuransi kesehatan, dan penghasilan yang stabil,” ujar Hall sebagaimana dilansir dari Investopedia pada Minggu, 31 Agustus 2025.

Gen Z bahkan disebut menjadi motor utama pergeseran ini. Menurut laporan Ogilvy, pada 2027 hampir separuh tenaga kerja di negara maju diperkirakan terlibat dalam gig ekonomi, dengan pertumbuhan tiga kali lipat dibanding pekerjaan konvensional.

Baca Juga: Rahasia Bisnis Sampingan di E-Commerce: 5 Strategi Ampuh Agar Toko Online Bertahan di Tengah Persaingan

Namun, kebebasan ini datang dengan konsekuensi besar, terutama soal pengelolaan finansial. Pendapatan yang tidak tetap membuat perencanaan keuangan lebih sulit dilakukan.

“Pendapatan yang tidak menentu membuat anggaran sulit dijaga,” tulis laporan Investopedia.

Salah satu strategi yang disarankan adalah menyusun belanja bulanan berdasarkan penghasilan bulan sebelumnya, sekaligus menyisihkan dana untuk tabungan darurat.

Baca Juga: Fresh Graduate Hadapi Jalan Terjal, Ekonomi Lesu Buat Peluang Kerja Berkualitas Semakin Menyempit

Bahkan, ahli merekomendasikan pekerja lepas menyiapkan cadangan dana setara 6–12 bulan pengeluaran, lebih besar dari standar tiga bulan, untuk mengantisipasi risiko pekerjaan tiba-tiba berhenti.

Agar lebih konsisten, penggunaan sistem tabungan digital juga dinilai efektif. Sebagian pendapatan bisa langsung dialokasikan secara otomatis tanpa bergantung pada niat pribadi untuk menabung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Didit Fauzi Hendrian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X