Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan sumber kerusakan mental.
“Mereka kalau memanfaatkan gawai misalnya, harus kita pandu supaya yang diakses adalah bermanfaat dan mereka dapat menggunakannya untuk kepentingan edukatif,” sambungnya.
Ia juga meminta para penyedia layanan game online turut berkontribusi dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat bagi generasi muda.
“Tolong kami dibantu untuk anak-anak diberi layanan mendidik, jangan layanan yang bisa merusak mental dan intelektual mereka,” tandas Abdul Mu’ti.***