Mediapriangan.com - Di tengah semaraknya bulan Ramadhan, Masjid Agung Manonjaya di Kabupaten Tasikmalaya telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan penanda sejarah yang tak tergantikan selama lebih dari 180 tahun.
Dibangun pada tahun 1834 pada masa Bupati Wiradadaha VIII, Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya ini tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga telah diakui secara resmi sebagai cagar budaya nasional oleh pemerintah.
Terletak di Desa Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Masjid Agung Manonjaya telah menjadi ikon religi yang mencolok, apalagi saat Ramadhan, Alun-alun dan sekitar masjid selalu menjadi ajang ngabuburit bagi warga.
Masjid Agung Manonjaya, dengan luas lahan mencapai 6159 m2, menjadi salah satu masjid tertua dan paling megah di Kabupaten Tasikmalaya.
Arsitektur masjid ini memadukan desain Eropa dengan unsur-unsur tradisional Sunda dan Jawa, menciptakan nuansa neoklasik yang kental namun tetap mempertahankan ciri khas budaya lokal.
Di dalam desainnya yang unik, atap tumpang tiga dengan mustaka atau momolog, yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, memberikan sentuhan khas pada arsitektur Masjid Agung Manonjaya.
Baca Juga: Malam Lailatul Qadar: Tanggal-tanggal Kemungkinan Terjadinya di Bulan Ramadhan 1444 H tahun 2023
Puluhan tiang penyangga atap dengan diameter antara 50 cm dan 80 cm, yang memberikan kesan kokoh dan megah, juga memperindah struktur bangunan.
Meskipun pernah mengalami kerusakan parah akibat gempa pada tahun 2009, Masjid Agung Manonjaya telah berhasil dipulihkan dan kembali berdiri sebagai tempat ibadah yang megah dan kokoh seperti semula.
Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Agung Manonjaya juga merupakan tempat menunnggu waktu berbuka saat bulan Ramadhan yang populer bagi warga setempat maupun pengunjung dari luar.