Ini Makna dan Rangkaian Ibadah di Mina Usai Wukuf, dari Lempar Jumrah Hingga Mabit Tiga Malam Penuh Berdoa

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Jumat, 6 Juni 2025 | 13:10 WIB
Foto: Ilustrasi tenda jemaah haji saat mabit. (Instagram/informasihaji)
Foto: Ilustrasi tenda jemaah haji saat mabit. (Instagram/informasihaji)

Mediapriangan.com - Setelah puncak wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah 1446 H atau bertepatan dengan 5 Juni 2025, rangkaian ibadah haji berlanjut dengan mabit di Muzdalifah dan Mina, yang berlangsung sejak malam 10 Zulhijjah hingga hari-hari tasyrik.

Mabit di Mina menjadi salah satu kewajiban dalam ibadah haji yang dijalankan setelah jemaah menyelesaikan prosesi wukuf. Secara makna, kata Mina berasal dari “muna” yang berarti harapan, menggambarkan tempat di mana para jemaah menumpahkan doa dan munajat kepada Allah SWT.

“Di Mina, kita bermunajat kelas Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu,” ujar Musytasyar Dini PPIH Arab Saudi, KH. M. Ulinnuha, seperti dikutip dari laman Kemenag, Jumat, 6 Juni 2025.

Baca Juga: Sejarah Mabit di Muzdalifah dan Maknanya Usai Wukuf, Ini Penjelasan Lengkap Ibadah Wajib Haji 2025

Setibanya di Mina, jemaah melakukan lempar jumrah aqabah pada 10 Zulhijjah sebanyak tujuh kali lontaran.

Ini menjadi bagian awal dari rangkaian ibadah di Mina dan menandai tibanya waktu untuk tahallul awal, yaitu mencukur rambut dan melepas pakaian ihram.

Dengan tahallul awal, jemaah diperbolehkan memakai pakaian biasa serta terbebas dari larangan ihram, kecuali bersetubuh dengan pasangan.

“Bagi pasutri yang statusnya masih tahallul awal, maka belum boleh berjimak hingga melakukan tahallul tsani setelah tawaf Ifadah,” imbuhnya.

Baca Juga: Idul Adha 6 Juni 2025 Jatuh di Hari Jumat, Masih Wajibkah Pria Muslim Melaksanakan Shalat Jumat?

Mabit di Mina dan Dua Opsi: Nafar Awal dan Nafar Tsani

Setelah melakukan tawaf Ifadah, jemaah kembali ke Mina untuk menjalankan mabit pada malam 11 dan 12 Zulhijjah bagi yang memilih Nafar Awal, atau hingga malam 13 Zulhijjah bagi yang memilih Nafar Tsani.

Selama hari-hari tasyrik tersebut, jemaah akan melaksanakan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah, masing-masing tujuh lontaran.

Batu kerikil untuk prosesi ini umumnya dikumpulkan sejak berada di Muzdalifah.

Bagi jemaah Nafar Awal, lontaran dilakukan pada 11 dan 12 Zulhijjah, sementara yang mengambil Nafar Tsani akan menambahkan lontaran di tanggal 13.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X