sementara kita saling berbisik
untuk tingga lebih lama lagi
pada debu, cinta yang tinggal berupa
bunga kertas dan lintasan angka-angka
ketika kita saling berbisik
di luar semakin sengit malam hari
memadamkan bekas-bekas telapak kaki,
menyekap sisa-sisa
unggun api
sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi
3. Kita Saksikan (1967)
kita saksikan burung-burung lintas di udara
kita saksikan awan-awan kecil di langit utara
waktu itu cuaca pun senyap seketika
sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya
di antara hari buruk dan dunia maya
kita pun kembali mengenalnya
kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata
saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia
4. Akulah Si Telaga (1982)
akulah si telaga:
berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
yang menggerakkan bunga-bunga padma;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
perahumu biar aku yang menjaganya.
5. Aku Ingin (1989)
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
6. Yang Fana Adalah Waktu (1989)
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.