MEDIAPRIANGAN - Kisah asal usul nama Sumedang tidak terlepas dari Prabu Agung Resi Cakrabuana atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Tajimalela dan dianggap sebagai tokoh utama di balik berdirinya kerajaan Sumedang Larang.
Sejak Prabu Tajimalela mewarisi takhta kerajaan Tembong Agung, yang didirikan pada abad ke-8 oleh Prabu Aji Putih, nama kerajaan diubah menjadi kerajaan Himbar Buana, yang berarti menerangi alam.
Kemudian kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Tajimalela, di wilayah bekas dari kerajaan Tembong Agung yang sudah berganti nama dengan kerajaan Himbar Buana.
Baca Juga: Oppo Reno 8 Series Launching, Ini Spesifikasi dan Harga Oppo Reno 8 4G dan Oppo Reno 8 5G
Memiliki sejarah yang cukup panjang, dengan mengalami beberapa kali perubahan nama. Namun, kini wiayah kerajaan tersebut berganti dengan Kabupaten Sumedang.
Popularitas dari kerajaan Sumedang Larang saat itu memang tidak sepopuler kerajaan lainnya yang ada di Indonesia, seperti misalnya kerajaan yang ada di Mataram, Cirebon, Demak, Banten, dan sebagainya. Namun, kerajaan itu tetap menjadi bukti sejarah yang kuat di Indonesia.
Asal usul kata Sumedang berasal dari Prabu Tajimalela ketika ia memimpin. Awalnya ia melihat ke arah langit yang sedang terang benderang, dengan cahayanya yang melengkung dan mirip dengan selendang atau malela, dalam waktu 3 hari 3 malam.
Baca Juga: 37 Paskibraka Pada Upacara Detik-Detik Proklamasi Di Kabupaten Tasikmalaya
Akhirnya ia berkata “Insun medal insun madangan”, yang artinya lahir pada kata Medal dan Madangan yang berarti memberi penerangan, sehingga arti dari kata Sumedang itu sendiri adalah lahir untuk memberikan penerangan.
Prabu Tajimalela memiliki tiga orang putra, yakni Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun. Di bawah pemerintahan Pangeran Angkawijaya yang bergelar Prabu Geusan Ulun inilah, kerajaan Sumedang Larang mencapai puncak kejayaannya
Makam Prabu Tajimalela berada di daerah Dayeuh Luhur Sumedang. Biasanya di bulan-bulan tertentu akan banyak para peziarah yang datang ke makam Beliau.
Baca Juga: Oppo Reno 8 4G dan 5G Resmi Launching di Indonesia, Langsung Buka Pre-Order sampai 25 Agustus 2022
Para peziarah tersebut berasal dari berbagai kota, ada yang datang dari Sumedang tapi banyak juga yang datang dari luar Sumedang.
Hingga saat ini benda pusaka Eyang Prabu Tajimalela terus dirawat dan dipelihara dengan baik, dan untungnya tidak sampai ke tangan para penjajah yaitu Kolonial Belanda.
Semua peninggalan benda-benda pusaka tersebut dirawat langsung oleh Bupati Sumedang, lalu diwakafkan.