Di Depan Publik, Prabowo Gagas Studi ‘Serakahnomics,' Sindir Ketimpangan Ekonomi dan Kelangkaan Minyak Goreng

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 24 Juli 2025 | 09:59 WIB
Presiden RI, Prabowo Subianto meminta kampus-kampus di Indonesia membuka studi baru bernama Serakahnomics.  (setneg.go.id)
Presiden RI, Prabowo Subianto meminta kampus-kampus di Indonesia membuka studi baru bernama Serakahnomics. (setneg.go.id)

Mediapriangan.com - Dalam pidato politik yang sarat kritik sosial dan ekonomi, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengusulkan pembentukan bidang studi baru yang ia sebut Serakahnomics.

Gagasan ini ia lontarkan saat menghadiri perayaan Hari Lahir ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Rabu malam, 23 Juli 2025.

Presiden Prabowo menyebut bahwa istilah Serakahnomics menggambarkan fenomena ekonomi yang menyimpang dari prinsip keadilan sosial, dan berbeda dengan mazhab ekonomi pasar bebas ataupun neoliberalisme.

Baca Juga: Tak Lama Usai Larung Abu Sang Ayah, Sarwendah Pilih Langsung Terbang ke Korea Demi Tuntaskan Pekerjaan Tertunda

"Bukan mazhab neolib atau pasar bebas, atau capital, ini mazhab serakahnomics," ujar Prabowo dalam pidatonya.

Ia bahkan meminta dunia akademik agar mulai menelaah lebih serius persoalan ketimpangan ekonomi melalui perspektif ini.

"Tolong kawan-kawan kita yang di universitas-universitas itu yang pintar-pintar tolong buka bidang studi serakahnomics," lanjutnya.

Baca Juga: DPR Soroti Isu Pajak Amplop Kondangan di Rapat Resmi, Mufti Anam Sebut Rakyat Diperas, Ini Tragis!

Dalam pidatonya, Presiden mengangkat kembali Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan kuat untuk menata ulang sistem perekonomian Indonesia.

Menurutnya, ayat pertama pasal tersebut yang menekankan asas kekeluargaan, sudah cukup menjelaskan bahwa orientasi ekonomi bangsa tidak boleh murni didasarkan pada akumulasi kapital individu.

Ia menyentil teori trickle down effect, di mana kekayaan dari kalangan elite diyakini akan mengalir ke bawah, namun menurutnya teori itu tidak realistis.

Baca Juga: Yakup Hasibuan Tegaskan Jokowi Absen Pemeriksaan Bukan Karena Sakit, Sudah Ada Agenda Resmi yang Tak Bisa Ditinggal

"Kenyataannya menetesnya lama banget, menetesnya 200 tahun, sudah mati kita semua itu. Jadi itu enggak benar, enggak benar, tidak akan netes ke bawah," katanya lantang.

Presiden juga menyinggung peristiwa ironis yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia justru sempat mengalami kelangkaan minyak goreng.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X