Mediapriangan.com - Transformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali menjadi perhatian publik. Sorotan muncul seiring pertanyaan mengenai sejauh mana Polri benar-benar mampu berbenah dan meningkatkan kualitas kerja serta citra institusi.
Dalam langkah terbaru, Polri mengumumkan pembentukan Tim Transformasi Reformasi Polri. Gugus tugas non-struktural ini digagas Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dengan misi mempercepat proses reformasi, baik dari sisi struktur organisasi maupun kultur kerja kepolisian.
Langkah ini menjadi kelanjutan dari konsep PRESISI (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang telah dicanangkan sebelumnya. Meski progresif, implementasi konsep di lapangan masih menemui sejumlah kendala.
Fokus Kerja Tim Transformasi
Ketua Tim Transformasi, Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, menyatakan pihaknya berkomitmen belajar dari pengalaman masa lalu dan memperbaiki kesalahan.
“Transformasi ini adalah keberanian untuk belajar dari masa lalu, memperbaiki kesalahan, menghadapi tantangan dan harapan masyarakat di masa kini, serta menyiapkan masa depan yang lebih baik,” tegas Dwilaksana dalam pernyataan resmi, Selasa 23 September 2025.
Tim Transformasi memiliki tiga fokus utama: pertama, reformasi struktural untuk membuat organisasi Polri lebih efisien dan responsif. Kedua, reformasi kultural yang membentuk karakter polisi profesional dan humanis. Ketiga, peningkatan pelayanan publik agar masyarakat memperoleh akses cepat dan mudah terhadap layanan kepolisian.
Tantangan Implementasi
Analisis DPR RI terkait “Tantangan Implementasi Transformasi Polri” tahun 2022 menyoroti kesulitan penerapan konsep PRESISI di lapangan. Dokumen tersebut menyebutkan, tanpa pemahaman merata di seluruh jajaran, reformasi berisiko berhenti di level slogan.
“Konsep PRESISI perlu disederhanakan agar mudah dipahami oleh seluruh jajaran. Tanpa pemahaman yang merata, program transformasi berisiko hanya berhenti di level slogan dan sulit terimplementasi secara menyeluruh,” demikian catatan DPR.
Selain itu, Polri dituntut menyesuaikan strategi dengan perkembangan era digital, perubahan pola kriminalitas, kejahatan siber, dan meningkatnya ekspektasi publik terhadap transparansi aparat.
Artikel Terkait
Ousmane Dembele Raih Ballon d’Or 2025, Perjalanan dari Terbuang di Barcelona hingga Jadi Bintang Besar PSG
Profil Gulsum Seyda Alp, Libero Manisa BBSK yang Sukses Koleksi 3 Trofi dan Targetkan Sultanlar Ligi 2025-2026
Ciamis Terpilih Jadi Lokasi PSN PLTM Leuwikeris 7,4 MW, Sekda Sebut Proyek Ini Berkah untuk Akses Listrik dan Irigasi
Mahfud MD Tolak Kursi Menko Polkam, Pilih Bantu Prabowo di Reformasi Polri Demi Etika Politik
Anggito Abimanyu Resmi Jadi Ketua DK LPS 2025-2030, Siap Lepas Jabatan Wamenkeu Demi Amanah Baru
Gangguan Coretax DJP Masih Jadi Sorotan, Menkeu Purbaya Janjikan Perbaikan Sistem Pajak Digital 1 Bulan