Pertumbuhan Kredit UMKM Merosot, Perry Warjiyo Beberkan Analisis Bank Indonesia Soal Penurunan Oktober 2025

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 20 November 2025 | 08:44 WIB
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan penyebab pertumbuhan Kredit UMKM yang merosot akibat permintaan kredit melemah dan tingginya suku bunga kredit. (Instagram/bank_indonesia)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan penyebab pertumbuhan Kredit UMKM yang merosot akibat permintaan kredit melemah dan tingginya suku bunga kredit. (Instagram/bank_indonesia)

 

Mediapriangan.com - Pertumbuhan Kredit UMKM pada Oktober 2025 mengalami perlambatan tajam dan hanya mencatat kenaikan 0,11 persen secara tahunan.

Bank Indonesia menilai kondisi ini berkaitan dengan melemahnya minat pelaku usaha mengajukan pembiayaan baru di tengah ketidakpastian ekonomi.

Situasi tersebut juga menjadi perhatian Perry Warjiyo, yang menekankan pentingnya stabilitas permintaan kredit agar pemulihan ekonomi tetap terjaga.

Baca Juga: SEA Games 2025, Megawati Hangestri Jadi Tumpuan Saat Cabor Voli Tantang Dominasi Thailand

Dalam pemaparan terbarunya, Perry Warjiyo menegaskan bahwa tren perlambatan ini sejalan dengan pergerakan kredit perbankan secara keseluruhan. Kredit pada Oktober 2025 tumbuh 7,36 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pencapaian September 2025.

“Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM Oktober 2025 yang turun menjadi sebesar 0,11 persen (yoy),” ujar Perry dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu, 19 November 2025.

Pernyataan ini kembali menempatkan Pertumbuhan Kredit UMKM sebagai salah satu indikator penting dalam memantau arah ekonomi nasional.

Baca Juga: Bupati Cecep Nurul Yakin Tegaskan Peran Strategis BPD dalam Majukan Desa

Faktor melemahnya permintaan kredit menjadi sorotan utama. Pelaku usaha dinilai masih menahan ekspansi bisnis, memilih memanfaatkan dana internal, dan belum sepenuhnya siap mengambil risiko akibat suku bunga kredit yang masih relatif tinggi.

Kondisi tersebut memperkuat gambaran bahwa permintaan kredit melemah meski ruang pembiayaan tersedia.

“Permintaan kredit yang belum kuat dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih menahan ekspansi (wait and see), optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, dan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi,” jelas Perry.

Baca Juga: Wacana Stiker Keluarga Miskin Picu Polemik, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Tegaskan Belum Ada Aturan Pemasangan

Pada sisi penawaran, perbankan juga dinilai belum melonggarkan aturan kredit, terutama untuk konsumsi dan UMKM.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X