Di masa penjajahan Jepang, istilah Sekolah Rakyat (SR) mulai digunakan untuk jenjang pendidikan dasar. Baru setelah kemerdekaan, nama Sekolah Dasar (SD) resmi diberlakukan pada 13 Maret 1946.
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Jenjang pendidikan menengah pertama di era Belanda dikenal dengan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Ada pula Hoogere Burgerschool (HBS), yang saat itu lebih eksklusif untuk warga Belanda.
Setelah kemerdekaan, MULO berganti nama menjadi SMP pada 13 Maret 1946. Sebutan ini sempat berubah menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) pada 1994, sebelum kembali menjadi SMP pada 2003.
Sekolah Menengah Atas (SMA)
Di era Belanda, jenjang setara SMA mencakup Algemeene Middelbare School (AMS) dan bagian dari HBS. AMS hanya ada di beberapa kota besar seperti Bandung, Semarang, dan Surabaya, dan dikhususkan untuk kalangan elit.
Pada masa penjajahan Jepang, AMS diubah menjadi Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Setelah Indonesia merdeka, SMT berganti nama menjadi Sekolah Menengah Oemoem Atas (SMOA) pada 1946 dan akhirnya menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 1950.
Sekolah Rakyat: Arah Baru Pendidikan Nasional
Dengan menggagas Sekolah Rakyat yang berkonsep modern, Prabowo Subianto ingin menghidupkan kembali semangat pendidikan untuk semua kalangan.
Baca Juga: Pelecehan Turis Singapura di Bandung dan Pemerkosaan Turis China di Bali, Berikut Kronologinya
Program ini tidak hanya mencakup pendidikan formal, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan siswa melalui sistem boarding school.
Diharapkan, inisiatif ini dapat mengurangi angka putus sekolah dan mendukung pertumbuhan generasi muda Indonesia yang lebih berdaya saing.
Program Sekolah Rakyat menjadi wujud nyata pemerintah dalam menciptakan kesetaraan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. ***