Bandara dan Jalur Laut Jadi Fokus Pengembangan Akses
Dalam menguatkan aksesibilitas, Kemenpar juga memfokuskan perhatian pada optimalisasi Bandara Blimbingsari di Banyuwangi.
Bandara ini disiapkan menjadi pintu masuk wisatawan internasional, terutama dari Tiongkok yang selama ini datang dengan penerbangan charter.
“Wisatawan dari Tiongkok biasanya charter flight dan selama ini mendarat di Denpasar,” ujar Puspa.
“Ke depan kami akan dekati tour operator agar mereka (wisatawan) landing di Banyuwangi dan menyebar ke Bali Barat dan Utara, bisa lewat jalur laut ke Lovina,” imbuhnya.
Untuk mempermudah konektivitas antardaerah, Kemenpar juga menyiapkan rute kapal cepat dari Banyuwangi ke Lovina.
Rute ini diyakini akan mengurangi waktu tempuh secara signifikan dan meningkatkan daya tarik wisata lintas wilayah.
“Jika menggunakan kapal cepat, waktu tempuh Banyuwangi–Lovina sekitar 1,5 jam,” ucapnya.
Namun demikian, masih ada tantangan yang harus diatasi, salah satunya adalah belum tersedianya dermaga khusus kapal cepat di Lovina.
Sebagai solusi sementara, Pelabuhan Gilimanuk akan digunakan sebagai titik sandar alternatif.
“Kami sedang pikirkan pembangunan dermaga agar jalur laut lebih cepat,” tutup Ni Luh Puspa.
Dengan strategi terintegrasi melalui Paket 3B, Kemenpar berharap pariwisata Bali akan berkembang lebih merata dan berkelanjutan, serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.***