nasional

Basarnas Ungkap Alasan Evakuasi Juliana Marins Tak Pakai Helikopter, Cuaca Ekstrem Jadi Kendala Utama

Jumat, 27 Juni 2025 | 21:09 WIB
Momen proses evakuasi jenazah Juliana Marins oleh Basarnas. (Instagram/kantorsar_mataram)

Mediapriangan.com - Proses evakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang jatuh ke jurang di kawasan Cemara Nunggal, Gunung Rinjani, akhirnya rampung pada Rabu, 25 Juni 2025. Namun, banyak warganet bertanya-tanya mengapa operasi penyelamatan tidak melibatkan helikopter.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memberikan penjelasan secara resmi. Menurutnya, penggunaan helikopter memang sempat direncanakan, namun kondisi cuaca di lokasi membuat opsi tersebut tidak memungkinkan dilakukan.

“Awalnya kita ingin melaksanakan evakuasi secepat mungkin dengan menggunakan pesawat heli dan itu menjadi alternatif pertama, ternyata cuaca tidak memungkinkan,” ujar Syafii dalam konferensi pers di Posko SAR Gabungan Sembalun, dikutip dari unggahan SAR Mataram, Jumat, 27 Juni 2025.

Baca Juga: Agam Rinjani Ungkap Detik-Detik Evakuasi Juliana Marins, Menginap di Tebing Curam Bareng Jenazah Pendaki Brasil

Bahkan setelah jenazah berhasil ditemukan dan akan dibawa naik, tim SAR masih berupaya menggunakan helikopter bila memungkinkan.

“Alternatif kedua, dengan korban sudah bisa ditarik ke atas kita pengin di perjalanan andai cuaca bagus, kita ingin menghadirkan helikopter lagi untuk mengangkut menggunakan udara, ternyata kondisi cuaca tidak memungkinkan,” tambahnya.

Akhirnya, tim gabungan harus melanjutkan evakuasi secara manual dengan metode tandu. Proses ini tentu memakan waktu lebih lama karena kondisi medan yang terjal dan cuaca yang tak bersahabat.

Baca Juga: Detik-detik Evakuasi Juliana Marins dari Jurang Rinjani, Jenazah Ditemukan di Kedalaman 600 Meter

“Sehingga evakuasi korban terpaksa harus kita laksanakan dengan ditandu,” jelas Syafii.

Sebagaimana diketahui, Juliana De Souza Pereira Marins terjatuh ke jurang sedalam 15 hingga 200 meter pada Sabtu, 21 Juni 2025.

Namun, berdasarkan pantauan drone terbaru pada Selasa, 24 Juni, posisi jenazah telah tergelincir lebih jauh hingga kedalaman 600 meter.

Proses evakuasi pun dilakukan dengan menurunkan tim SAR ke dalam jurang. Mereka menjemput langsung jenazah Juliana dan mengangkatnya ke permukaan melalui jalur ekstrem yang memerlukan kehati-hatian tinggi.

Upaya penuh risiko ini pun mendapat apresiasi luas dari publik, terutama karena dilakukan tanpa dukungan udara akibat cuaca buruk yang terus membayangi wilayah pegunungan Rinjani sepanjang operasi berlangsung.***

Tags

Terkini