Mediapriangan.com - Polemik lama seputar bailout Bank Central Asia (BCA) kembali mengemuka. Perdebatan muncul setelah sebagian media menilai wacana peninjauan ulang bailout dan penjualan saham bank swasta terbesar itu sebagai ide yang disebut “sesat”.
Ekonom senior HM Sasmito Hadinagoro menilai, anggapan tersebut justru menutup ruang publik untuk memahami salah satu bab termahal dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Menurutnya, BCA kini mencatat laba bersih lebih dari Rp50 triliun per tahun, tetapi publik masih mengingat bahwa bank itu pernah diselamatkan dengan uang rakyat.
"Para pemegang saham pengendali menikmati dividen jumbo tiap tahun, sedangkan beban obligasi rekap masih tercatat dalam ingatan sebagai utang rakyat," tulis Sasmito.
Dari Krisis ke Bank Raksasa
Pada krisis moneter 1997-1998, pemerintah menerbitkan obligasi rekap bernilai ratusan triliun rupiah untuk menyelamatkan bank yang kolaps.
BCA termasuk penerima terbesar. Dana ini membuat bank yang nyaris tumbang itu bangkit dan kini menjelma menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Bank Nasional dan Daerah Kompak Jamin Dana Nasabah Tetap Aman di Tengah Penataan Rekening Dormant
Kontroversi berlanjut ketika pemerintah menjual 51 persen saham BCA kepada investor asing pada 2001 dengan harga sekitar Rp5 triliun. Saham itu kemudian dikuasai Grup Djarum.
Bandingkan dengan kondisi sekarang: per Agustus 2025, kapitalisasi pasar BCA mencapai Rp1.344 triliun, yang berarti 51 persen sahamnya senilai lebih dari Rp685 triliun.
Kritik Lama, Pertanyaan Baru
Keraguan terhadap skema bailout BCA bukan hal baru. Menko Ekuin kala itu, Kwik Kian Gie, bahkan menolak memberikan Surat Keterangan Lunas (SKL) kepada obligor BLBI karena melihat adanya potensi kerugian negara.