Lebih lanjut, Ferry Irwandi menilai pendidikan seharusnya berfungsi sebagai jembatan, bukan pemisah. Dalam masyarakat yang majemuk, akses terhadap pengetahuan perlu diperluas agar tidak menjadi alat eksklusivitas segelintir kelompok.
"Pendidikan seharusnya tidak menciptakan jarak, melainkan menjembatani perbedaan," ungkapnya.
"Mereka yang memiliki keistimewaan akses terhadap ilmu dituntut untuk berbagi, menerjemahkan, dan mempermudah, agar pengetahuan dapat menjadi milik bersama, bukan alat eksklusivitas," sambung Ferry.
Tak hanya itu, Ferry Irwandi juga mengaitkan erat pendidikan dengan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, masyarakat terdidik memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas ruang publik, terutama di tengah derasnya arus informasi.
"Dengan kemampuan berpikir kritis yang dimilikinya, mereka diharapkan mampu meluruskan disinformasi, menenangkan perbedaan," jelas Ferry.
"Serta mendorong dialog yang rasional, beradab, dan berlandaskan fakta," imbuhnya.
Dalam pandangan Ferry Irwandi, berpikir kritis menjadi kunci agar suara kaum terdidik dapat menghadirkan kejernihan di tengah situasi sosial yang kompleks.
Oleh sebab itu, pendidikan dan berpikir kritis harus berjalan seiring dengan integritas pribadi.
"Pada akhirnya, pendidikan harus selalu berjalan seiring dengan integritas," ungkapnya.
Ia menegaskan, tanggung jawab sosial tidak hanya terletak pada kecakapan berpikir kritis, tetapi juga pada keteladanan sikap dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Bagi Ferry Irwandi, ukuran kemajuan bangsa bukan sekadar jumlah orang terdidik, melainkan sejauh mana pendidikan dan berpikir kritis digunakan untuk kebaikan bersama.