TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Upaya pelestarian sejarah dan budaya lokal terus diperkuat di Kota Tasikmalaya. Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) menggandeng Universitas Siliwangi melalui Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP untuk mengembangkan penelitian sejarah budaya berbasis akademik.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Auditorium Gedung Muhammad Nu’man Somantri Unsil pada Kamis (21/5/2026). Kolaborasi tersebut menjadi salah satu langkah konkret dalam menjaga warisan budaya dan memperkuat literasi sejarah masyarakat Tasikmalaya.
Ketua DKKT, Tatang Suprihatna Sumpena mengatakan, kolaborasi itu lahir dari kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan berbagai catatan sejarah dan tradisi lokal yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Baca Juga: Batik Karya Siswa MTsN 3 Kota Tasikmalaya Pukau Plh Wali Kota, Cara Keren Lestarikan Budaya Sunda
Ia menilai, banyak sejarah lokal Tasikmalaya yang hingga kini masih tersimpan dalam bentuk cerita lisan dan belum terdokumentasi secara sistematis.
“Kerja sama ini bukan sekadar formalitas kelembagaan. Kami ingin ada kerja nyata berupa penelitian, pengarsipan budaya, hingga publikasi yang bisa dibaca masyarakat luas,” kata Tatang Pahat, Sabtu (23/5/2026).
Melalui kerja sama tersebut, DKKT dan Unsil akan fokus melakukan penelitian sejarah lokal, dokumentasi kesenian tradisional, pengumpulan arsip budaya masyarakat, hingga penyusunan publikasi ilmiah.
Selain itu, kedua lembaga juga merancang agenda seminar budaya, forum diskusi sejarah, penerbitan buku, serta digitalisasi arsip sejarah Kota Tasikmalaya agar lebih mudah diakses generasi muda.
Tatang menambahkan, penguatan budaya daerah menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Tasikmalaya di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi.
Menurutnya, sebuah daerah akan kehilangan arah jika tidak mampu menjaga memori kolektif serta akar sejarahnya sendiri.
Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsil, Zulpi Miftahudin menilai, Tasikmalaya memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang sangat besar untuk dikaji lebih mendalam.
Ia menegaskan, sejarah lokal tidak boleh berhenti sebagai cerita turun-temurun tanpa dokumentasi ilmiah yang kuat.
Artikel Terkait
Napak Tilas Padjadjaran Menggema, Mahkota Binokasih Keliling Jawa Barat dalam Balutan Budaya
Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran Membawa Karisma Mahkota Binokasih ke Berbagai Daerah di Jawa Barat
Memenuhi Antusiasme Warga, Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran Kini Hadir Memukau Masyarakat Kabupaten Garut
Malang Jadi Ruang Hidup Budaya, ICCN Siapkan Indonesia Culture Festival 2026 sebagai Ekosistem Berkelanjutan
Bakal Jadi Wisata Sejarah, Tugu Koperasi Kota Tasikmalaya Menuju Status Cagar Budaya Nasional
Kirab Budaya di Cirebon Tampilkan Mahkota Binokasih, Dedi Mulyadi: Sejarah Adalah Jembatan Masa Depan