“Pokoknya kita cek, dapur kita suspen, kemudian Kepala SPPG-nya kita copot,” ujar Sudaryono kepada wartawan saat ditemui di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Pemeriksaan juga akan mencakup persoalan penerapan label pada ompreng, termasuk informasi mengenai waktu makanan tersebut harus dikonsumsi. Hal itu dinilai menjadi salah satu bagian yang perlu diverifikasi dalam investigasi.
Baca Juga: Kepala SPPG Karanganyar Muntah usai Cicip Menu MBG, 94 Paket untuk Siswa SDN 2 Jati Ditarik
“Nanti aku cek, apakah dia sudah ada labelnya atau belum, apa segala macam akan kita cek, kita investigasi. Tapi yang jelas semua keracunan itu kita langsung suspensi dapurnya, kita copot kepala SPPG-nya, kita investigasi.” lanjutnya.
Menurut Sudaryono, sanksi yang diberikan dapat diperberat apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya unsur kesengajaan atau pelanggaran tertentu. Dalam kondisi tersebut, bukan hanya pengelola yang dapat dikenai tindakan, tetapi operasional dapur juga bisa dihentikan secara permanen.
“Kemudian kalau perlu, kalau dia memang secara ada kesengajaan unsur ini unsur itu ya kepala SPPG-nya pun bisa kita pecat, dapurnya kita tutup permanen,” tukasnya.
Penyebab Dugaan Keracunan Masih Menunggu Pemeriksaan
Peristiwa di Kabupaten Karo ini masih berada dalam tahap pendataan dan investigasi. Jumlah 269 siswa merupakan angka sementara yang dihimpun pada Kamis sore dan belum menutup kemungkinan adanya tambahan laporan.
Karena itu, siswa Berastagi yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan di beberapa fasilitas kesehatan sembari proses pemeriksaan berlangsung.
Pihak berwenang juga perlu memastikan sumber persoalan sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab dugaan keracunan MBG.
Pemeriksaan terhadap makanan, proses pengolahan, distribusi, hingga dapur SPPG menjadi bagian penting untuk mengetahui rangkaian kejadian secara utuh.
Sementara itu, SMAN 1 Berastagi menjadi sekolah dengan jumlah pelajar terdampak paling besar berdasarkan data sementara. Kondisi tersebut membuat proses pendataan dan penanganan siswa terus menjadi perhatian.
Hingga data terakhir yang disampaikan pada Kamis sore, belum ada keterangan bahwa angka 269 siswa merupakan jumlah final. Pembaruan data selanjutnya diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai perkembangan kondisi para pelajar serta hasil investigasi dugaan keracunan MBG di Berastagi.***
Artikel Terkait
PKB Terus Bersinergi dengan Nahdliyin, Oleh Soleh Ingatkan Fatayat NU Bijak Gunakan Media Sosial
11 Kantor Pemkab Puncak Dibakar Massa, Polisi Ungkap Awal Kericuhan soal Dana Desa
Rumah MC Tantangan Hafalan Al Quran Berhadiah Miras Digeruduk Massa, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan
PT Palawi Risorsis Renovasi Patuha Resort, Tingkatkan Kenyamanan Wisatawan di Bandung Selatan
Tukang Cukur Bogor Minta Maaf usai Viral soal Bendera Merah Putih, Tegaskan Indonesia Sudah Merdeka
Bos Narkoba MR Ditangkap, Kampung Bahari Bergejolak: Loyalis Serang Aparat dengan Mercon