Pesantren Al Hamid Cilangkap Kini Punya 1.800 Santri, Jejak Amanah Gus Miek dan Dukungan Boy Thohir

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Selasa, 29 September 2026 | 21:55 WIB
Pesantren Al Hamid Cilangkap berkembang dengan 1.800 santri. Jejak Gus Miek, KH Hamid Djiman, dan dukungan Boy Thohir mengiringi sejarahnya. (Dok. Istimewa)
Pesantren Al Hamid Cilangkap berkembang dengan 1.800 santri. Jejak Gus Miek, KH Hamid Djiman, dan dukungan Boy Thohir mengiringi sejarahnya. (Dok. Istimewa)

Pesantren putra dibangun di atas lahan sekitar 65.000 meter persegi. Sementara kompleks pesantren putri berdiri di atas lahan sekitar 35.000 meter persegi.

Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan menghadirkan berbagai kebutuhan pendidikan dan kehidupan santri. Dalam proses tersebut, KH Hamid Djiman juga memperoleh dukungan dari sahabatnya, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir.

“Pada akhirnya ayahanda bersama sahabat beliau Garibaldi Thohir atau Haji Boy yang ikut membantu mulai perlahan membangun ponpes di atas lahan seluas enam hektar di pondok putra dan 3,5 hektare di pondok putri,” kata Lukman.

Baca Juga: DPR Soroti CCTV Lapas Cibinong Minim, Dirjenpas Buka-bukaan Soal Anggaran 2026 yang Tak Tersedia

Dukungan Boy Thohir menjadi salah satu bagian dari proses pembangunan kompleks pesantren yang kemudian terus berkembang. Seiring waktu, Pesantren Al Hamid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan agama, tetapi juga berkembang menjadi lingkungan pendidikan dengan berbagai jenjang.

Fasilitas pendidikan yang tersedia kini mencakup asrama, gedung Madrasah Aliyah atau MA, Madrasah Tsanawiyah atau MTs, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu atau MIT, taman kanak-kanak, koperasi, klinik, kantin, musala, hingga sarana olahraga.

Pengembangan tidak hanya dilakukan pada sisi bangunan. KH Hamid Djiman juga menyiapkan sumber daya manusia yang nantinya mengelola lembaga pendidikan tersebut.

Baca Juga: Baterai Mobil Listrik Berusia 6 sampai 8 Tahun Rusak, Biaya Perbaikan Bisa Bikin Mobil Jadi Total Loss

Putra-putrinya dikirim untuk menimba ilmu di sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Yanbu'ul Qur'an Kudus, Pesantren Tahfidzul Qur'an Malang, serta Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri.

Keterkaitan dengan Pondok Pesantren Al Falah Ploso kemudian turut membentuk tradisi keilmuan di lingkungan Pesantren Al Hamid. Dalam perkembangannya, pesantren tersebut menginduk dan memperoleh pengawasan dari pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Kediri.

Perjalanan lembaga ini memasuki tahap baru ketika mulai menerima santri dan siswa pada 2002. Pada saat itu, jenjang pendidikan yang dibuka meliputi TK, MI, MTs, dan MA.

Baca Juga: Korban Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Lombok Tengah Jadi 16 Orang, Modus Abah Tawarkan Jadi Istri Kedua

Perubahan kelembagaan kemudian terjadi pada 2007. Nama Yayasan Mantab Sejahtera berubah menjadi Yayasan Mantab Al Hamid berdasarkan Akta Notaris Nomor 77/17-12-2007.

Tiga tahun berselang, pada 2010, Pesantren Al Hamid tercatat dengan Nomor Statistik Pondok Pesantren 510031750036.

Nama Gus Miek tetap menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya lembaga tersebut. Amanah untuk mendirikan pesantren di Jakarta menjadi pijakan awal yang kemudian diteruskan oleh KH Hamid Djiman melalui pembangunan fasilitas dan pengembangan pendidikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X