Pesantren putra dibangun di atas lahan sekitar 65.000 meter persegi. Sementara kompleks pesantren putri berdiri di atas lahan sekitar 35.000 meter persegi.
Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan menghadirkan berbagai kebutuhan pendidikan dan kehidupan santri. Dalam proses tersebut, KH Hamid Djiman juga memperoleh dukungan dari sahabatnya, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir.
“Pada akhirnya ayahanda bersama sahabat beliau Garibaldi Thohir atau Haji Boy yang ikut membantu mulai perlahan membangun ponpes di atas lahan seluas enam hektar di pondok putra dan 3,5 hektare di pondok putri,” kata Lukman.
Baca Juga: DPR Soroti CCTV Lapas Cibinong Minim, Dirjenpas Buka-bukaan Soal Anggaran 2026 yang Tak Tersedia
Dukungan Boy Thohir menjadi salah satu bagian dari proses pembangunan kompleks pesantren yang kemudian terus berkembang. Seiring waktu, Pesantren Al Hamid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan agama, tetapi juga berkembang menjadi lingkungan pendidikan dengan berbagai jenjang.
Fasilitas pendidikan yang tersedia kini mencakup asrama, gedung Madrasah Aliyah atau MA, Madrasah Tsanawiyah atau MTs, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu atau MIT, taman kanak-kanak, koperasi, klinik, kantin, musala, hingga sarana olahraga.
Pengembangan tidak hanya dilakukan pada sisi bangunan. KH Hamid Djiman juga menyiapkan sumber daya manusia yang nantinya mengelola lembaga pendidikan tersebut.
Putra-putrinya dikirim untuk menimba ilmu di sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Yanbu'ul Qur'an Kudus, Pesantren Tahfidzul Qur'an Malang, serta Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri.
Keterkaitan dengan Pondok Pesantren Al Falah Ploso kemudian turut membentuk tradisi keilmuan di lingkungan Pesantren Al Hamid. Dalam perkembangannya, pesantren tersebut menginduk dan memperoleh pengawasan dari pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Kediri.
Perjalanan lembaga ini memasuki tahap baru ketika mulai menerima santri dan siswa pada 2002. Pada saat itu, jenjang pendidikan yang dibuka meliputi TK, MI, MTs, dan MA.
Perubahan kelembagaan kemudian terjadi pada 2007. Nama Yayasan Mantab Sejahtera berubah menjadi Yayasan Mantab Al Hamid berdasarkan Akta Notaris Nomor 77/17-12-2007.
Tiga tahun berselang, pada 2010, Pesantren Al Hamid tercatat dengan Nomor Statistik Pondok Pesantren 510031750036.
Nama Gus Miek tetap menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya lembaga tersebut. Amanah untuk mendirikan pesantren di Jakarta menjadi pijakan awal yang kemudian diteruskan oleh KH Hamid Djiman melalui pembangunan fasilitas dan pengembangan pendidikan.
Artikel Terkait
55 Warga Binaan Lapas Cibinong Diperiksa, Nama Ferdy Sambo Muncul dalam Investigasi Klaster Rumah Mewah
PKH dan BPNT Tahap 4 Segera Cair, Cek Nominal dan Cara Daftar Bansos Oktober-Desember 2026
2 Napi Koruptor PT Timah Ditemukan di Rumah Mewah Lapas Cibinong, Identitasnya Diungkap Dirjenpas
Warso Farm Bogor Tawarkan Destinasi Wisata Edukasi, Kebun Durian Luas dan Belasan Varietas Jadi Daya Tariknya
Cari Spot Healing di Bogor? Bukit Paniisan Tawarkan Trekking dengan Panorama Perbukitan Hijau dari Ketinggian
172 Peserta PPDS FK Unair Diduga Keracunan Makanan, Sampel Diperiksa dan Pradik Diliburkan