Mediapriangan.com - Isu seputar bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi pada Pilkada Banyuwangi 2024 masih belum jelas. Hingga Selasa, 16 Juli 2024, ada enam kandidat yang santer dibicarakan sebagai bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi.
Enam kandidat tersebut adalah Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani selaku petahana, Kepala DPU Pengairan Guntur Priambodo, Ketua DPC Partai Demokrat Michael Edy Hariyanto, Rektor Universitas KH Mukhtar Syafa'at Dr. KH Ahmad Munib Syafa'at, Mantan Ketua PCNU Banyuwangi KH Ali Makki Zaini atau Gus Makki, dan Sekda Banyuwangi H Mujiono, yang sering dianggap sebagai kartu truf dalam Pilkada Banyuwangi 2024.
Gus Makki, seorang kandidat pemegang rekomendasi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), diduga akan berpasangan dengan Ketua DPC Partai Demokrat Banyuwangi Michael Edy Hariyanto dalam Pilkada Banyuwangi 2024.
Namun, pasangan ini masih menunggu kepastian dan deklarasi resmi sebelum pendaftaran calon yang baru dibuka pada 27 Agustus 2024.
Di sisi lain, Rektor Universitas KH Mukhtar Syafa'at Banyuwangi KH Ahmad Munib Syafa'at atau Gus Munib juga masih berusaha maju pada Pilkada Banyuwangi 2024, baik sebagai bupati maupun wakil bupati.
Sementara itu, publik mengaitkan nama petahana Ipuk Fiestiandani dengan Kepala DPU Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo. Namun, hampir tidak ada flyer yang bertebaran di media sosial yang memasangkan Ipuk Fiestiandani dengan H Mujiono.
CEO Promedia Teknologi Indonesia, Agus Sulistriyono, didampingi GM Marketing, Bimo Aditya, dan tim dari AdaTah.com bertemu dengan Sekda Banyuwangi H Mujiono untuk mendengarkan langsung pandangan dari sosok yang dianggap kartu truf ini.
Pertemuan yang awalnya dijadwalkan hanya setengah jam berlangsung selama satu setengah jam di Lounge Pemkab Banyuwangi.
"Jika nama Pak Muji disandingkan sebagai wakil Bu Ipuk bagaimana, apakah Bapak siap?" tanya CEO Promedia Teknologi Indonesia Agus Sulistriyono setelah lama membahas soal pemerintahan dan memperkenalkan tentang Promedia.
H Mujiono terkejut sembari tersenyum ketika ditanya tentang kursi wakil bupati, terutama jika disandingkan dengan petahana.