opini

Memahami 5 Gaya Negosiasi Lewat Karakter Unik, Bisa Jadi Rahasia Tersembunyi Kesuksesan Anda dalam Dunia Bisnis

Sabtu, 12 Juli 2025 | 09:48 WIB
Opini Kenali 5 Gaya Negosiasi dalam Bisnis Lewat Karakter Unik oleh Karsono, mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah STEI SEBI . (Dok. pribadi)

Kalau kamu merasa seperti Si Rewel, pastikan kamu tahu batas minimum yang bisa kamu terima. Jangan kompromi hanya karena ingin cepat selesai.

Gunakan pendekatan ini saat kesetaraan posisi memang ada dan waktu menuntut penyelesaian. Tahu kapan harus kompromi dan kapan harus tegas adalah kuncinya. Dan jangan lupa, terlalu banyak rewel juga bisa bikin lawan jadi enggan bernegosiasi lagi.

4. Profesor Linglung (Gaya Menghindar)

Profesor Linglung adalah tipe negosiator yang cenderung menghindar dari konflik. Ia sering berkata, “Nanti saja,” atau “Saya pikirkan dulu.”

Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia butuh waktu berpikir, atau bingung harus memulai dari mana. Gaya menghindar ini bisa menjadi strategi jika digunakan dengan bijak.

Misalnya, saat emosi sedang tinggi atau informasi belum lengkap. Profesor Linglung tidak suka tekanan dan sering kabur dari diskusi penting. Ia berharap masalah selesai sendiri atau hilang seiring waktu.

Padahal, dalam dunia bisnis, menghindar terlalu lama bisa jadi bumerang. Masalah yang ditunda bisa membesar dan merusak kepercayaan.

Meski begitu, gaya ini berguna untuk pendinginan suasana sebelum negosiasi dilanjutkan.

Kalau kamu merasa seperti Profesor Linglung, cobalah buat daftar prioritas. Beri batas waktu untuk berpikir sebelum kembali ke meja runding.

Jangan biarkan lawan bicara menggantung tanpa kepastian. Ingat, negosiasi adalah tentang komunikasi, bukan pelarian. Terkadang, diam itu emas—tapi terlalu lama diam bisa jadi bencana.

5. Orang Lemah (Gaya Pasif)

Orang Lemah adalah tipe negosiator yang tidak punya posisi, strategi, atau keberanian untuk berbicara. Ia cenderung menyerah sebelum berjuang.

Dalam rapat, ia hanya mengangguk tanpa kontribusi. Dalam tawar-menawar, ia langsung setuju tanpa bertanya lebih jauh. Orang Lemah tidak benar-benar bernegosiasi, ia hanya mengikuti arus.

Biasanya, Orang Lemah merasa dirinya tidak punya nilai lebih untuk ditawarkan. Ia takut mengecewakan orang lain, atau merasa tidak pantas untuk bersuara.

Gaya ini bisa merugikan dirinya sendiri dan perusahaannya. Padahal, semua pihak dalam negosiasi punya hak untuk bersuara dan didengar. Jika tidak, maka yang terjadi adalah dominasi sepihak dan hasil yang timpang.

Halaman:

Tags

Terkini