Bagaimana Media Sosial Membentuk Persepsi Ancaman Geopolitik Indonesia dalam Konflik Palestina-Israel

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 4 Desember 2025 | 16:30 WIB
Opini : Media Sosial mempengaruhi Persepsi Ancaman Geopolitik Indonesia saat konflik Palestina-Israel memanas.    (Dok.Pribadi)
Opini : Media Sosial mempengaruhi Persepsi Ancaman Geopolitik Indonesia saat konflik Palestina-Israel memanas.  (Dok.Pribadi)

Oleh : Ilma Yuniar
Mahasiswa Universitas Siliwangi Jurusan Ilmu Politik

 

SETIAP konflik Palestina Israel memanas, linimasa media sosial berubah menjadi ruang yang bising, penuh potongan video, gambar, dan kesaksian yang tersebar tanpa henti.

Di tengah derasnya arus narasi konflik Palestina Israel tersebut, kita bahkan lupa bahwa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari peristiwa yang jauh lebih besar.

Media sosial membawa semua itu langsung ke depan mata. Memang informasinya tidak selalu lengkap, sering kali terlepas dari konteks, dan bergerak terlalu cepat untuk disaring.

Kita mulai membentuk persepsi kita sendiri, siapa yang sedang menderita, siapa yang harus bertanggung jawab, dan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia.

Kedekatan emosional yang muncul dari paparan media sosial tidak selalu dibarengi pemahaman yang menyeluruh.

Konflik Palestina Israel yang rumit dan berlapis sering terlihat seperti pertentangan dua kubu yang hitam-putih.

Platform digital sendiri tidak memberi ruang untuk penjelasan panjang, ia lebih sering mendorong reaksi cepat daripada pemikiran yang mendalam.

Dalam situasi seperti ini, masuk akal kalau pandangan kita tentang konflik sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di internet.

Colin Gray, seorang pemikir geopolitik modern, pernah menyebut bahwa dunia sekarang tidak hanya dipengaruhi oleh wilayah dan kekuatan militer, tetapi juga oleh arus informasi, persepsi publik, dan teknologi komunikasi.

Menurutnya, ruang digital adalah bagian dari “medan geopolitik”—tempat di mana negara dan masyarakat saling berebut pengaruh, bukan dengan senjata, tapi dengan narasi.

Bagi banyak orang Indonesia, konflik Palestina Israel bukan hanya tentang politik luar negeri.

Ada dimensi emosional yang muncul dari rasa kemanusiaan, solidaritas, dan nilai-nilai yang sudah lama tertanam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X