Mediapriangan.com - Akhir-akhir ini dunia pendidikan dikejutkan oleh pernyataan yang menyebut guru sebagai "beban negara". Padahal sejatinya, guru adalah investasi bangsa.
Ucapan itu tentu terasa sangat pahit, terutama bagi para pendidik yang telah mendedikasikan hidup dan mewakafkan diri demi mencerdaskan generasi bangsa serta menjaga masa depan negeri tercinta.
Guru adalah garda terdepan pembangunan sumber daya manusia. Tanpa guru, tak akan lahir dokter, insinyur, pemimpin, bahkan pejabat negara.
Demikian hal itu dikatakan salah seorang pegiat pendidikan Tasikmalaya sekaligus Dosen STIT AZ Zahra Tasikmalaya, M. Ainur Rofik, Selasa, 19 Agustus 2025.
Menurutnya, guru seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan beban. Apa yang negara keluarkan untuk kesejahteraan guru, sejatinya adalah modal berharga agar anak bangsa tumbuh cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di dunia global.
"Bagi saya pribadi, guru adalah investasi bangsa, bukan beban negara," kata Ainur Rofik.
Menurutnya, sejarah telah memberikan pelajaran berharga, dimana setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke II akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, negeri itu benar-benar hancur. Ekonomi lumpuh, rakyat menderita, dan hampir semua infrastruktur porak-poranda.
Namun, yang pertama kali ditanyakan Kaisar Hirohito kepada para jenderalnya, bukanlah berapa jumlah tentara yang tersisa, melainkan berapa banyak guru yang masih hidup?.
Pertanyaan itu, ucap Ainur Rofik, bukan tanpa alasan. Jepang sadar betul bahwa untuk membangun kembali bangsanya, mereka memerlukan guru. Sebab dari tangan guru lahir generasi baru dengan ilmu, etos kerja, dan karakter kebangsaan yang kuat.
"Faktanya, benar saja, berkat penghormatan dan perhatian kepada guru, hanya dalam beberapa dekade Jepang mampu bangkit dari kehancuran menjadi salah satu negara maju dengan kualitas SDM yang diakui dunia saat ini," ujar Ainur Rofik.
Ia menambahkan, kisah itu seharusnya menjadi cermin bagi seluruh elemen bangsa di Indonesia. Setiap rupiah untuk guru bukanlah beban, melainkan strategi besar mencetak generasi emas.