daerah

Kisruh Dapur MBG Panakkukang, Patokan Rp6.500 per Porsi Dinilai Tak Masuk Akal, Ratusan Siswa Kehilangan Hak Gizi

Selasa, 30 September 2025 | 21:22 WIB
Dapur SPPG Panakkukang ditutup diduga akibat polemik patokan Rp6500 per porsi. (indonesia.go.id)

Mediapriangan.com - Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Makassar kembali mencuat setelah Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Panakkukang 02 resmi dihentikan operasionalnya sejak sepekan terakhir.

Dapur yang berada di bawah Yayasan Tangan Fatima Bekerja itu ditutup usai muncul masalah terkait harga patokan setiap porsi makanan, yang hanya dipatok Rp6.500.

Kebijakan ini menuai sorotan karena dianggap tidak sejalan dengan arahan Presiden yang menekankan standar kualitas gizi lebih tinggi.

Baca Juga: Kasus Keracunan Massal di KBB, BGN Nonaktifkan 56 Dapur MBG dan DPR Usulkan Kantin Sekolah Jadi Pusat Produksi

Mitra Badan Gizi Nasional (BGN), Arifin Gassing, menyebut angka tersebut tidak masuk akal untuk menghadirkan makanan bergizi layak bagi siswa.

"Saya juga tidak mengerti kenapa harus Rp 6.500. Padahal jelas petunjuk Presiden lebih besar dari itu," kata Arifin kepada wartawan pada Senin, 29 September 2025.

Dampak ke Pekerja dan Siswa

Penutupan dapur SPPG Panakkukang 02 membuat puluhan pekerja kehilangan mata pencaharian. Salah satunya Sri Bulan, yang mengungkapkan sekitar 50 orang kini terdampak langsung akibat berhentinya operasional dapur tersebut.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan MBG Tetap Jalan, Semua Dapur Harus Steril dan Gunakan Test Kit Sebelum Distribusi

Padahal, sejak Februari 2025 dapur ini setiap hari menyiapkan 3.500 porsi makanan bergizi yang didistribusikan ke sekolah-sekolah di wilayah Panakkukang.

Tak hanya pekerja, ratusan siswa sekolah dasar juga ikut merasakan dampak. Kepala UPT SPF SD Negeri Tamamaung 1, Basora, mengatakan 383 siswanya kini kehilangan akses makanan bergizi.

"Kalau datang kita terima, tidak datang mau bagaimana lagi. Kami berharap ke depan kebijakan ini lebih terarah," ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi ini bukan yang pertama. Pada Agustus lalu, distribusi MBG sempat terhenti selama dua pekan sehingga pihak sekolah meminta siswa membawa bekal sendiri dari rumah.

Baca Juga: Evaluasi Besar Program MBG, Said Abdullah Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Halaman:

Tags

Terkini