BGN Gandeng UMKM Lokal dan Larang Produk Kemasan untuk MBG, Respons Menu Burger dan Spaghetti Disorot

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Minggu, 28 September 2025 | 11:06 WIB
BGN akan lebih ketat dalam pemilihan menu untuk MBG.  (Instagram/badangizinasional.ri)
BGN akan lebih ketat dalam pemilihan menu untuk MBG. (Instagram/badangizinasional.ri)

Mediapriangan.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menjadi sorotan publik. Menyikapi hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas untuk memastikan kualitas menu yang disajikan.

Kebijakan terbaru MBG menekankan pelarangan penggunaan produk kemasan pabrik atau ultra processed food (UPF), sekaligus menggandeng UMKM lokal sebagai pemasok bahan makanan.

Langkah ini diambil sebagai respons atas kritik publik dan anggota DPR terkait menu MBG, termasuk penyajian burger dan spaghetti yang sempat menjadi sorotan.

Baca Juga: Kasus Keracunan MBG Jadi Sorotan, Presiden Prabowo Panggil Kepala BGN dan Tekankan Tujuan Gizi Anak

Dengan strategi baru ini, MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menekankan bahwa larangan produk kemasan pabrik membuka peluang besar bagi UMKM lokal.

“Begitu larangan ini dilaksanakan, ratusan ribu UMKM pangan akan hidup. Ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk tidak hanya memberi gizi bagi anak bangsa, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat,” ujarnya di Jakarta pada Sabtu, 27 September 2025.

Baca Juga: Kasus Keracunan MBG Tembus 5.914 Korban, Prabowo Panggil Kepala BGN dan Ingatkan Jangan Ada Politisasi

Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menambahkan bahwa olahan daging seperti sosis, nugget, atau burger harus berasal dari UMKM bersertifikasi halal, SNI, terdaftar BPOM, dan masa edar maksimal satu minggu.

“Dengan kebijakan ini, kita bukan hanya bicara soal menu bergizi, tapi juga soal keberpihakan pada UMKM. MBG harus menyehatkan sekaligus menyejahterakan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan lain, Nanik menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menolerir penggunaan produk pabrikan.

Baca Juga: Isu Dapur Fiktif Mengguncang Program MBG Rp99 T, Menkeu Purbaya Kawal Serapan Anggaran dan Ancam Pangkas Dana

“Dapur MBG adalah untuk membangkitkan ekonomi lokal, bukan untuk memperkaya pemilik pabrik roti. Roti-roti dibuat oleh ibu-ibu murid yang kami berikan makan. Jadi, roti itu dibuat oleh ibunya dan dimakan anaknya,” jelasnya.

Namun, penggunaan produk kemasan tetap diperbolehkan untuk susu karena keterbatasan peternakan sapi di beberapa daerah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X