Beberapa pihak mengingatkan agar pemerintah tidak memindahkan beban moral pembangunan kepada masyarakat di tengah kondisi fiskal yang sebenarnya kuat.
Pemprov Jabar memastikan bahwa laporan keuangan donasi akan terbuka untuk publik. Namun, transparansi saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan akuntabilitas dan kejelasan arah penggunaan dana.
Dedi Mulyadi menegaskan, gerakan ini bukan semata soal nominal uang, tetapi semangat kebersamaan membangun daerah.
“Ini bukan soal besar kecilnya uang, tapi soal kebersamaan membangun Jawa Barat,” tegas Dedi.
Dengan demikian, Rereongan Sapoe Sarebu menjadi simbol gotong royong baru di Jawa Barat, namun publik menanti, apakah gerakan ini benar-benar membawa manfaat nyata, atau hanya berhenti sebagai jargon solidaritas di atas kertas.***