Mediapriangan.com - Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama Kementerian Agama, MUI Ciamis, Baznas Ciamis, dan DMI menggelar puncak anugerah Masjid Ramah tahun 2025 di Aula Sekretariat Daerah pada Senin, 8 Desember 2025.
Agenda anugerah Masjid Ramah tahun 2025 menjadi ruang strategis untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban, terutama dalam menghadapi tantangan degradasi moral generasi muda.
Ketua Pelaksana, Syarief Nurhidayat menyampaikan sebanyak 100 masjid dari berbagai wilayah di Kabupaten Ciamis mengikuti penilaian anugerah Masjid Ramah tahun 2025.
"Penilaian tahun ini melibatkan 100 masjid peserta yang dinilai oleh ratusan tim penilai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Penilaian mencakup aspek Idaroh (manajemen), Imaroh (kemakmuran), dan Riayah (pemeliharaan fisik), serta keramahan terhadap anak, perempuan, difabel, lansia, musafir, dan lingkungan," ujarnya.
Dalam sambutan resmi, Bupati Herdiat Sunarya menegaskan bahwa anugerah Masjid Ramah pertama kali digagas pada 2023 sebagai respons atas keprihatinan para ulama dan tokoh masyarakat.
Bupati Herdiat menyoroti kemerosotan moral, maraknya pergaulan bebas, hingga meningkatnya isu LGBT sebagai tantangan serius yang harus dihadapi pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Ciamis.
Baca Juga: Ciamis Luncurkan Sustainable Ways Project, Perkuat Ekonomi Sirkular dan Bank Sampah Berbasis Digital
"Kondisi mental dan akhlak generasi muda kita sangat memprihatinkan. Digitalisasi jika tidak dimanfaatkan dengan baik, dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Bupati Herdiat.
Selain itu, Bupati Herdiat menyayangkan menurunnya minat masyarakat terhadap kegiatan Magrib Mengaji dan salat berjemaah di masjid seusai pandemi.
Menurutnya, dengan adanya anugerah Masjid Ramah, diharapkan semangat masyarakat untuk memakmurkan masjid dapat kembali tumbuh.
Baca Juga: Bupati Herdiat Apresiasi ASN Berprestasi di Apel Hari Besar Nasional 2025 Kabupaten Ciamis
Bupati Herdiat juga menyinggung kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang harus mengalami efisiensi pascapandemi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah terhadap kegiatan keagamaan tetap menjadi prioritas.
"Tahun depan kita menghadapi efisiensi anggaran, namun kegiatan seperti ini tidak boleh hilang. Justru di masa sulit, sinergi ulama dan umara harus semakin kuat. Paling tidak, selama saya menjabat, kegiatan ini tidak boleh hilang," tegasnya.