daerah

Gedung Megah, Stok Darah Kerontang, Suara Miris dari BDRS RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya

Kamis, 11 Desember 2025 | 19:44 WIB
Krisis darah di RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya, masyarakat diminta tingkatkan kesadaran donor demi pemenuhan stok. (D. Farhan Kamil)

Mediapriangan.com - Dari luar, gedung dua lantai Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) RSUD KHZ Musthafa terlihat megah dan modern.

Namun di balik tembok kokohnya, para petugas justru hidup dalam kegelisahan, stok darah yang harusnya menyelamatkan nyawa, nyaris tak pernah cukup.

Gedung yang dibangun pada 2018 itu semula dirancang sebagai Unit Transfusi Darah (UTD) sebelum akhirnya resmi beroperasi sebagai BDRS pada Februari 2019.

Namun sejak berdiri, kebutuhan darah di rumah sakit terus meningkat tajam, sementara pasokan justru tersendat.

Baca Juga: Berebut Amanah Mulia, Ratusan Peserta Seleksi PPIH di Kabupaten Tasikmalaya Berjuang Lewat Tes CAT

Penanggung jawab BDRS RSUD KHZ Musthafa, dr. Nuria Nirmala, didampingi Kasi Penunjang Klinik, dr. Sudaryan mengungkap kenyataan pahit yang selama ini mungkin tak diketahui publik.

Ia menyebut permintaan darah dari pasien sangat tinggi, sedangkan suplai dari UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya jauh dari kata cukup.

"Kami sering kesulitan mendapatkan darah yang segera dibutuhkan pasien. Dropping dari UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya sangat tidak bisa diandalkan," ujar dr. Nuria, baru-baru ini.

Menurutnya, kebutuhan darah di RSUD KHZ Musthafa mencapai rata-rata 600 labu per bulan.

Baca Juga: Ketua dan Wakil Ketua FK Tagana Tasikmalaya Diterjunkan ke Aceh, Usai Tuntaskan Misi Kemanusiaan di Medan

Namun ironisnya, selama satu tahun penuh 2024, total darah yang dikirim (dropping) UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya hanya 685 labu.

Artinya, jumlah itu bahkan tidak mencukupi kebutuhan rumah sakit selama satu bulan.

Kondisi ini, terang Nuria, memicu fenomena menyedihkan. Banyak pasien dan keluarganya harus mencari darah secara mandiri.

Bahkan ada yang terpaksa mengeluarkan uang untuk membeli darah dari pihak tertentu dengan harga fantastis, sebuah ironi di tengah pelayanan kesehatan yang seharusnya mengutamakan kemanusiaan.

Halaman:

Tags

Terkini