“Sedih melihat kondisi di sini, setragis itu. Lebih tragis dari yang di dalam media sosial,” lanjutnya.
Dalam video yang sama, warga setempat menceritakan detik-detik banjir bandang yang disertai kayu gelondongan menghantam rumah mereka.
“Dulu rumah-rumah di situ. Untung kejadiannya siang, kalau malam habis semua,” ucap salah satu warga.
Baca Juga: UMKM Didorong Naik Kelas lewat GenSi, Indosat Perkuat Literasi Digital untuk Usaha
Warga menjelaskan bahwa banjir bandang datang sekitar pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB, membawa arus deras dan kayu gelondongan yang merusak bangunan.
“Kayu sama air, bercampur. Itu (kayu) yang ngabisin rumah-rumah ini,” sambungnya.
Selain permukiman, warga menyebut lahan pertanian di Garoga Tapanuli Selatan juga terdampak. Sawah yang baru ditanami dilaporkan rusak akibat terjangan banjir bandang dan timbunan kayu gelondongan.
Sebelumnya, Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa Garoga Tapanuli Selatan termasuk wilayah dengan tingkat kerusakan paling berat akibat bencana tersebut.
“Rusak berat banyak di Tapanuli Selatan, ada dua desa yang mungkin pernah muncul di video itu kayu-kayu gelondongan besar segala macam, ternyata itu di Tapanuli Selatan,” ucapnya dalam konferensi pers pembaruan kebencanaan pada 30 November 2025.
Ia menyebutkan bahwa banyak rumah warga masuk kategori rusak berat karena dihantam kayu gelondongan saat banjir bandang terjadi. Pemerintah daerah setempat bahkan mengajukan permintaan bantuan alat pemotong kayu untuk mempercepat pembersihan material.
Untuk wilayah Garoga Tapanuli Selatan, pemerintah bersama Kementerian Kehutanan memprioritaskan pembersihan kayu gelondongan, pemantauan titik longsor di wilayah hulu, serta peningkatan sistem peringatan dini guna mengantisipasi banjir bandang susulan.***